INFO VIRUS CORONA

11-12, Anies Tunjuk Penipu Jadi Pejabat, Fahira Puja Penjahat Sebagai Pahlawan!


Pikiran Sehat  - Ya mungkin karena satu gerombolan ya, jadi haluannya sama. Yakni nyeleneh. Baru saja terjadi blunder besar yang dibuat oleh Anies. Ketika menunjuk seorang terpidana penipu menjadi Direktur Utama PT TransJakarta, Donny Saragih. Anies gencar mempromosikan Donny, dengan antara lain menyebutkan latar belakang pengalaman kerjanya. Padahal kasus penipuan yang dilakukan oleh Donny itu menimpa perusahaan tempat dia bekerja dulu, Eka Sari Lorena. Jadi Anies baca CV, tapi tidak mengadakan pengecekan lagi terhadap isi CV itu. Pokoknya blunder ini sangat memalukan.

Nah, Fahira Idris, ini konconya Anies nih. Sudah banyak yang dilakukan oleh Fahira buat Anies. Apa pun yang dilakukan Anies akan dia bela habis-habisan, walaupun ada rekam jejaknya kalau dia menggunakan standar ganda. Ingat kan soal pelarangan kegiatan Sahur on the road? Fahira marah-marah di era Gubernur Ahok, namun di era Gubernur Anies, dengan panjang lebar Fahira ini membela kebijakan yang sama. Hehehe…. Ya sudah lah, kita paham lah posisinya di mana. Terserah saja kalau Fahira ini mau membela Anies. Saya tidak mau merecoki kerja sama yang indah itu.

Yang ingin saya soroti adalah pembelaan dan pujian Fahira Idris terhadap Dede Lutfi Alfiandi (Lutfi). Kita lihat lagi latar belakang Lutfi. Lutfi ini yang fotonya sempat viral lagi karena dipakai oleh seorang oknum buat memberikan selamat kepada Partai NasDem. Dan memang Lutfi terkenal karena foto itu. Foto Lutfi, hasil karya fotografer Kompas, Garry Lotulung, menggambarkan seorang berpakaian seperti siswa STM membawa bendera merah putih. Kejadiannya di bulan September 2019, yakni saat demo rusuh terkait revisi UU KPK waktu itu. Foto ini sangat viral karena seakan menjadi simbol perjuangan seorang siswa STM. Bahkan Lutfi sempat dicari oleh seorang rapper untuk dikasih uang sekolah, padahal….

Yup, terungkap di pengadilan bahwa saat itu usia Lutfi sudah 20 tahun. Dia sudah lulus dari SMK dan sedang tidak bekerja alias pengangguran. Lutfi disebut mengetahui soal rencana aksi pada 30 September 2019 pada Instagram. Lantas Lutfi mendapat ajakan dari seorang rekannya bernama Nandang untuk mengikuti demo itu. "Karena niat terdakwa hanya untuk membuat keonaran atau kerusuhan di demo tersebut, terdakwa langsung menyamar menggunakan pakaian atau seragam sekolah terdakwa yang terdahulu yaitu baju putih dan celana abu-abu," ujar jaksa Andri dalam persidangan. Lutfi juga melakukan penyerangan terhadap petugas kepolisian dan turut merusak fasilitas umum Sumber Sumber.

Oleh sebab itu, ketika saya menulis tentang Lutfi ini di bulan Desember 2019 lalu, saya menyebut Lutfi ini tidak ada bedanya dengan pencopet di Tanah Abang. Ada niat buruk, kemudian menyamar jadi pembeli, ikut berdesakan di depan kios di Tanah Abang, tapi kerjaanya nyopet. Penjahat beneran lah.

Nah, majelis hakim sudah menyatakan Lutfi bersalah melakukan perbuatan melawan polisi saat berdemo dan diberikan vonis 4 bulan. Lutfi langsung bebas karena vonis itu sama panjangnya dengan masa tahanan yang sudah dia jalani. Semoga masa hukuman yang telah dia jalani membuat Lutfi kapok berurusan dengan hukum.

Apa hubungannya dengan Fahira Idris? Dilansir ayojakarta.com, Fahira Idris, bersama anggota Ormas Bang Japar, selalu menyempatkan diri menghadiri tiap persidangan Luthfi. “Saya saksikan sendiri begitu banyak doa dan dukungan yang mengalir untuk Luthfi. Ini karena apa yang disuarakan dan diperjuangkan Lutfi mewakili keresahan publik atas lahirnya sebuah undang-undang yang tidak sesuai dengan semangat reformasi,” ujar Fahira Idris. Baginya Luthfi bukan seorang kriminal apalagi mantan narapidana. Luthfi adalah contoh generasi muda yang punya empati, sensitivitas, dan keberanian ikut menyuarakan apa yang menjadi keresahan masyarakat luas. “Luthfi hanya menyuarakan keresahan publik dalam sebuah demonstrasi yang dilindungi undang-undang. Dia bukan seorang kriminal walau diputus hakim bersalah. Saya yakin publik juga memahami ini dan Insya Allah, tidak ada stigma kepada Lutfi sebagai mantan narapidana,” ungkap Fahira Sumber.

Wuidiiiihhhh…. Segitunya? Kalau Fahira ini termasuk dalam pihak-pihak yang menentang adanya revisi Undang Undang KPK, ok saya akan paham. Perbedaan pendapat itu adalah suatu keniscayaan, apa pun latar belakangnya. Namun, ketika Fahira menganggap bahwa Lutfi, seorang pengangguran yang menyamar sebagai siswa STM agar bisa berbuat kerusuhan, sebagai layaknya seorang pejuang reformasi? OMG! Nggak salah tuh? Bahkan Fahira tidak menganggap Lutfi sebagai seorang kriminal. Maksa bener? Kalau Fahira sendiri menolak revisi UU KPK, kenapa tidak ikutan demo sampai malam, mengikuti Lutfi yang kemudian menyusup lagi ke belakang geding MPR/DPR? Sekalian ikut Lutfi merusak fasilitas umum dan menyerang petugas? Kenapa nggak ikut? Karena hal itu salah kan? Penjahat ya penjahat, apalagi kalau sudah punya niat buruk. Pertanyaan saya sama terhadap Anies ketika menunjuk terpidana penipu jadi pejabat. Mau bangun (kerajaan) mafia? Sekian dulu dari kura-kura!

SUMBER : https://seword.com/politik/1112-anies-tunjuk-penipu-jadi-pejabat-fahira-dWhudev9wd