INFO VIRUS CORONA

4 Kisah Warga Tinggal di Tempat Tak Lazim, 10 Tahun Hidup di Goa hingga Huni WC Sekolah

PikiranSehat.com - Rumah menjadi tempat tinggal untuk bernaung dan berlindung.

Namun beberapa orang di Indonesia masih ditemukan tinggal di tempat tak lazim seperti goa, pos ronda hingga toilet.

Mereka pun harus menghadapi berbagai risiko, seperti fenomena alam hingga jangkitan penyakit.

Kompas.com merangkum beberapa kasus warga yang pernah tinggal di tempat tak lazim seperti berikut ini:

1. 10 tahun tinggal di goa

La Udu (50) sudah 10 tahun tinggal di dalam gua

La Udu memasak tak jauh dari sampannya yang digunakan setiap harinya untuk mencari ikan di laut. Lokasi tempat memasak La Udu di dalam gua, Selasa (4/2/2020).(DEFRIATNO NEKE)

La Udu (50) sudah 10 tahun tinggal di dalam gua di tepi pantai di Kelurahan Kadolomoko, Kecamatan Kokalukuna, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

Tinggal di bawah tebing, beralaskan kayu bekas perahu, La Udu sering merasa kedinginan.

"Kalau malam dingin sekali. Takut (sendiri), tapi mau bagaimana lagi. Kalau air laut pasang, saya masuk ke dalam lagi,” ujar La Udu saat ditemui di kediamannya, Senin (3/2/2020).

Dia setiap hari makan ubi, kasoami dan mencari ikan untuk dijual.

Kehidupan ini dia pilih karena tidak mau merepotkan orang lain.

Keberadaannya kemudian dilaporkan kepada kepolisian setempat hingga akhirnya La Udu diajak berdialog.

Dia kemudian diberi tempat sementara di salah satu kios Terminal Baubau.

Pemerintah daerah juga menjanjikan pada La Udu untuk membangunkan sebuah rumah baru.

"Di sini (di lapak) sudah senang. Saya tidak mau kembali lagi ke goa. Kalau sudah ada rumah saya akan tidur di rumah,” ujarnya.

2. Tinggal di UKS

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Widyagama Kota Malang, Jumat (6/9/2019)

Siswa berinisial B di SMK Widyagama, Kota Malang, Jawa Timur terpaksa tidur di Unit Kesehatan Siswa (UKS) setelah diusir oleh keluarga orang tua asuhnya.

Sejak kelas 9 SMP, B berpisah dengan orang tua kandungnya yang pergi ke luar kota usai masa kontrak rumahnya habis.

B yang sebatang kara kemudian diasuh oleh seseorang bernama Pak Angga.

Namun B yang bertengkar dengan orang tua Pak Angga diusir dan tidak punya tempat tinggal lagi.

"Selasa itu dia tidak pulang, kenapa kok tidak pulang ternyata sudah tidak boleh tidur di rumah itu karena ada suatu hal," kata kepala sekolahnya, Mawan Suliyadi, Jumat (6/9/2019).

Untuk sementara, kebutuhan B ditanggung oleh pihak sekolah, mulai dari makan hingga kebutuhan pendidikan.

B pun bersekolah di SMK Widyagama juga berkat ayah angkatnya. B mendapatkan beasiswa penuh di sekolah itu.

Orangtua asuhnya, Angga menjanjikan akan mengasuh kembali B setelah rumah yang dia bangun selesai.

"Dia sangat nyaman dengan bapak asuhnya. Karena dididik usaha. Nyaman sekali dia. Dan nyambung. Hobinya komputer sama. Usahanya juga di bidang komputer," katanya.

3. Guru SD honorer tinggal di WC sekolah

Nining Suryani (44) menunjukkan isi rumahnya yang menempati bagian toilet sekolah di SDN

Nining Suryani (44) menunjukkan isi rumahnya yang menempati bagian toilet sekolah di SDN Karyabuana 3, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten, Senin (15/7/2019)

Guru honorer di SDN Karyabuana 3, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten, Nining Suryani (44) sekeluarga tinggal di WC sekolah selama dua tahun.

Karena sudah tidak punya rumah, Nining meminta izin sekolah untuk menggunakan WC tersebut sebagai tempat tinggal.

Sekolah sempat menolak, namun akhirnya pihak sekolah tidak punya pilihan dan membantunya membelikan kayu.

WC dan lokasi sekitarnya itu kemudian dimodifikasi agar bisa ditempati sebagai tempat tinggal dan warung untuk siswa jajan.

"Bekas WC jadi tempat masak, kalau tidur di samping WC, ada ruangan dibangun bantuan dari kepala sekolah," kata Nining di SDN Karyabuana 3, Cigeulis, Senin (15/7/2019).

Gaji Nining sebagai guru honorer hanya Rp 350 ribu per bulan. Dia masih harus membiayai anak keduanya yang masih belajar di MTs.

"Anak saya yang kedua sekarang masih sekolah di pesantren, tiap bulan butuh biaya," kata dia.

Kisah Nining menuai simpati banyak kalangan. Sejumlah pihak kemudian membantu Nining membangun sebuah rumah.

Kini, Nining dan keluarganya tak lagi tidur di WC sekolah.

4. Kakek tunanetra tinggal di pos ronda

Wardi (76) warga Desa Jambangan Kabupaten Ngawi hidup terlunta lunta

 Wardi (76) warga Desa Jambangan Kabupaten Ngawi hidup terlunta lunta dan meglamai buta terpkasa tinggal di pos ronda karena miskin. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dia harus kerja dari menjadi kuli penggali pasir hingga berjualan barang rongsok.

Seorang kakek tunanetra di Desa Jambangan, Ngawi, Jawa Timur bernama Wardi (76) terpaksa hidup dan tinggal di pos ronda lantaran tidak memiliki rumah.

"Saya sudah hampir 20 tahun tinggal di pos ronda ini. Sebelumnya tinggal di samping pagar warga," ungkapnya.

Wardi sehari-hari bekerja mencari rongsokan.

Ia mengaku tinggal di pos ronda karena tidak ingin merepotkan orang lain.

Padahal, pos ronda berukuran 2x3 meter yang memang sudah lama tak terpakai itu bocor tiap kali hujan.

Kisah Wardi menggugah hati warga. Kepolisian Resor Ngawi pun akhirnya membangun rumah semi permanen berukuran 4x6 meter yang bisa ditinggali oleh Wardi.

"Mbah Wardi ini mengalami kebutaan dan harus kerja keras, kami tergerak meringankan beban Mbah Wardi membangunkan rumah yang layak," kata Kapolres Ngawi AKBP Pranatal Hutajulu.