INFO VIRUS CORONA

Bukti Busuknya Fadli Zon yang Akhirnya Dibenturkan dengan Prabowo


PikiranSehat.comSeperti yang kita ketahui bersama, bahwa di Indonesia terkadang masih ada yang membuang empati saat bom meledak dan membawa korban nyawa serta luka-luka. Dengan gampangnya, dulu begitu ramai mengatakan bahwa terorisme tersebut adalah setingan dengan berbagai narasi yang menyudutkan pemerintah. Pengeboman dianggap sebagai pengalihan isu sebuah kasus yang ada.

Ada juga yang beranggapan bahwa terorisme adalah sebuah upaya untuk membuat nama baik agama Islam menjadi buruk. Jika dulu orang bebas menulis tuduhan-tuduhan tak berdasar tersebut di media sosial dan lain sebagainya, saat ini setelah ada penindakan tegas tak ada yang berani secara terbuka untuk membuat propaganda tersebut.

Belum lama ini, bahkan Fadli Zon di Mata Nazwa seperti menyudutkan pemerintah terkait masih adanya terorisme.

"Sejauh mana keberhasilan deradikalisasi yang sudah banyak menghabiskan dana APBN? Kita perlu evaluasi menangani terorisme, jangan sampai terorisme dibuat ada terus sehingga ada anggaran terus," kata Fadli Zon seperti dikutip Suara.com, Kamis (13/2/2020).

Dari pernyataan Fadli Zon tersebut sudah jelas akan terbentuk persepsi bahwa teroris dianggap tetap dipelihara demi terus mengucurnya sebuah anggaran. Lalu Fadjroel Rachman yang merupakan Jubir Presiden mengatakan bahwa dia nanti akan menanyakannya ke Prabowo yang saat ini adalah menteri pertahanan.


"Nanti kita tanyakan bapak Menteri Pertahanan," jawab Fadjorel.

Menhan yang masuk ke Kemenkopolhukam sudah pasti berkoordinasi antara satu dengan yang lainnya,oleh sebab itu wajar ketika Fadjorel nyeletuk akan menanyakan hal tersebut kepada Prabowo yang sekaligus bosnya Fadli Zon.

Mendengar perkataan tersebut Fadli Zon membela sang Bos yang telah menjadi sasaran peluru yang dilemparkannya. Dia pun mengatakan bahwa hal itu tidaklah masuk dalam ranah Menhan, tetapi justru para penonton pun tertawa pertanda apa yang disampaikan oleh Fadli Zon adalah hal yang lucu.

Dari kejadian tersebut justru kita akan menganggap bahwa Fadli Zon seperti busuk dengan mau menjelekkan pemerintah, tetapi juga takut terhadap Prabowo yang saat ini ada di pemerintahan. Ini seperti dagelan yang gak lucu karena terkesan menunjukkan kebobrokan politikus kita.

Sebenarnya, jika pun apa yang dituduhkan oleh orang-orang terkait teroris tersebut sah-sah saja asalkan mereka tidak melupakan fakta bahwa para teroris itu mati dengan harapan mendapatkan bidadari di surga. Mereka berani mati karena mereka mendambakan surga. Dan tak lupa, meskipun penafsirannya dianggap melenceng, mereka itu adalah orang-orang yang mengaku bahwa diri mereka adalah pemeluk Islam yang kafah tak hanya dari ibadah tetapi dari cara berpaiannya.

Kalau ada yang mengatakan bahwa ISIS itu bentukan Amerika, ya itu pun sah-sah saja, kalau memang keyakinannya seperti itu, berarti ada orang bodoh yang termakan propaganda dengan membawa agama, karena yang terdoktrin banyak orang yang merasa paling Islami.

Orang-orang yang menganggap bahwa teroris itu setingan, buatan dan lain sebagainya, seharusnya berjuang bersama untuk memeranginya dengan cara mencerdaskan orang-orang yang memiliki potensi terpapar radikalisme. Bukan justru terkesan seperti mendukung.

Lalu tidak lupa, bahwa doktrin radikalisme akan diawali dengan intoleran baik itu yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Yang kelihatan tentu saja dengan mudah teridentifikasi, seperti meminta IMB Gereja di cabut dan lain sebagainya. Sedangkan untuk intoleran yang tak terlihat secara langsung ini yang sulit karena adanya di dalam diri seperti anti atau Nazis bergaul dengan orang diluar kelompoknya dan lain sebagainya.

Yan perlu kita ingat adalah, intoleransi, radikalisme hingga berujung pada terorisme berpotensi dilakukan siapapun tanpa pandang orang beragama hingga tak beragama. Intoleransi berawal dari rasa curiga terhadap kelompok lain dan menganggap bahwa kelompok lain merupakan ancaman, serta menganggap bahwa kelompoknya adalah yang paling benar, pemegang ‘kunci surga’.

Orang Kristen, orang Islam, orang Katolik, orang Hindu, Orang Budha dan orang tak beragama bisa dan berpotensi menjadi teroris jika tidak memiliki empati. Empati yang membawa kepada manusia supaya berupaya untuk mau merasakan yang orang lain rasakan. Empati yang berujung pada rasa sayang terhadap sesamanya. Oleh sebab itu, ketika kita beragama, jangan lupa untuk ber-empati serta ber-akal. Udah ah, itu aja… Cak Anton

Sumber: 
https://seword.com/umum/bukti-busuknya-fadli-zon-yang-akhirnya-wfk4DmvP2o
Sumber pendukung opini: 
https://www.suara.com/news/2020/02/13/122817/saat-nama-prabowo-jadi-perdebatan-dalam-bahasan-terorisme