INFO VIRUS CORONA

Curhatan Ahok Saat Dipenjara & Gaji Gubernur DKI

Foto: Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Jakarta, PikiranSehat.com
- Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok buka-bukaan soal kehidupannya sebelum dan selama berada di penjara. Dengan cukup emosional Ahok mencoba berbagi kisah hidupnya.

Dalam peluncuran buku "Panggil Saya BTP, Perjalanan Psikologi Ahok Selama di Mako Brimob" di kantor Tempo, Senin kemarin, (17/02/2020) Ahok merinci perbedaan hidupnya sebelum dan sesudah masuk penjara. Gubernur DKI periode 19 November 2014 hingga 9 Mei 2017 ini mengaku stress di hari-hari awal masuk penjara.
Baca juga:KPK Lelang 3 Mobil Rampasan dari Koruptor, Apa Saja?
Dia marah dengan semua orang yang membuatnya dipenjara dan tidak berbuat untuk menolongnya saat akan dipenjara. Salah satu masalah yang ditakuti saat dipenjara adalah masalah finansial.

Betapa tidak dirinya masih menjadi kepala keluarga dan masih punya anak yang perlu dinafkahi. Sementara kenyataan yang harus diterima adalah mendekam di penjara. Seiring berjalannya waktu, Ahok mulai menerima semua masalah yang dialami, dan memaafkan semua pihak.

Saat sedang curhat, moderator dalam diskusi peluncuran buku bertanya, memang seberapa miskin dia saat dipenjara dan apa bedanya saat menjadi pejabat DKI Jakarta?

Dengan karakter yang masih sama, Ahok selalu blak-blakan dalam bercerita. Menceritakan masa lalunya saat jadi Gubernur DKI bahwa selama jadi pejabat ia hanya menerima gaji, sementara pejabat tempat lain bisa bicara soal komisi. Ia mengaku pernah ditanya oleh orang berapa yang ia hasilkan sewaktu memimpin ibu kota.
Baca juga:7 Mahasiswa Kalsel Pulang dari Karantina Natuna, Dijemput Wagub dan Disambut Isak Tangis Keluarga
"Saya bilang lumayanlah, waktu jadi wakil gubernur bisa Rp 1 miliar setahun saya simpan. Tapi begitu jadi gubernur Rp 800 juta, malah turun," ujar Komisaris Utama Pertamina ini.

Pengakuannya ini, kata dia, ditertawakan oleh orang yang mendengarkannya.

Ia pun menjelaskan, gajinya lumayan tinggi dengan nilai tersebut salah satunya dari bonus masuknya PBB (pajak bumi dan bangunan), yang diserahkan dari Kementerian Keuangan ke pemerintah provinsi.

Sewaktu menjadi wakil gubernur ia bisa mendapatkan sampai Rp 150 juta buat tambahan gaji dalam sebulan. Namun, begitu dia jadi gubernur ada penurunan pemasukan sehingga hanya Rp 77 juta sebulan.

"Jadi buat saya itu udah lumayan, tapi saya diketawain."