INFO VIRUS CORONA

Harga Gula Mahal? Gampang, Impor Saja Lagi!


Foto: Detik.com
Jakarta, PikiranSehat.com - Rencana pemerintah untuk mengimpor gula raw sugar untuk kebutuhan gula konsumsi atau gula kristal putih (GKP) masyarakat (non-industri) mendapat protes petani. Pemerintah dianggap terlalu mudah mengambil kebijakan impor, di sisi lain nasib petani tebu terus tertekan.

Soal kenaikan harga gula saat ini masih dianggapnya wajar karena petani pun butuh dapat keuntungan. Ia khawatir bila sedikit-sedikit kebijakan impor dilakukan maka Indonesia akan terus ketergantungan dengan negara lain.
Baca juga:Curhatan Ahok Saat Dipenjara & Gaji Gubernur DKI
"Jangan hanya saat kampanye petani akan kita diberdayakan, akan memberikan petani kesempatan harga lebih tinggi, tapi praktiknya di lapangan kami pelan-pelan terbunuh. Kita jangan bangga dengan impor...," kata Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen kepada CNBC Indonesia, beberapa waktu lalu.

Soemitro sangat mewanti-wanti, bahwa kebijakan impor pelan-pelan akan menekan petani tebu. Ini karena gula impor bisa menekan harga di dalam negeri, apalagi gula impor yang masuk dari India, yang kena fasilitas keringanan impor sebagai bentuk kerjasama perdagangan dengan sawit.

Saat ini pemerintah dihadapkan dengan kenaikan harga gula di pasar. Pergerakan harga gula pasir dalam sepekan terakhir trennya terus naik. Bahkan pada hari ini, Senin (17/2) harga gula pasir rata-rata nasional sudah mendekati Rp 15.000/kg, tepatnya Rp 14.500/kg. Padahal pada beberapa hari lalu harga rata-rata gula pada 11 Februari masih Rp 14.000/kg. Mahalnya harga gula ini terjadi karena saat ini sudah tak lagi musim panen tebu, musim giling tebu juga sudah berlangsung di Oktober lalu.
Baca juga:KPK Lelang 3 Mobil Rampasan dari Koruptor, Apa Saja?
Di sisi lain, sebentar lagi menjelang bulan puasa, kebutuhan terhadap gula konsumsi di masyarakat akan semakin tinggi. Untuk itu, pemerintah membuka peluang impor gula raw sugar yang akan diolah menjadi gula kristal putih (GKP). Kebijakan ini juga pernah dilakukan pada 2018.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono menjelaskan, kebutuhan konsumsi GKP di Indonesia mencapai 2,8 juta ton. Sedangkan Indonesia hanya mampu memproduksi 2,2-2,3 juta ton GKP.

Artinya, ada kekurangan kebutuhan GKP di Indonesia 500-600 ribu ton. Pemerintah sudah sepakat akan membuka impor raw sugar sebesar 495.000 ton. Negara yang dijajaki adalah India.