INFO VIRUS CORONA

Indonesia Cari “Kerjaan” Jika 600 WNI eks ISIS Dipulangkan


Wkwkwk….kemanusiaan? Yup, kemanusiaan menjadi alasan kenapa Indonesiaku yang baik hati ini memulangkan 600 WNI eks ISIS. Jadi penasaran apa sih persisnya pengertian kemanusiaan? Kok yah gampang sekali kata kemanusiaan dijadikan pelicin. Senasib nampaknya kata ini dengan kata maaf yang juga jadi murah meriah melebihi cuci gudang sale akhir tahun. `



Yup, tersiar berita menurut Fachrul Razi, Menteri Agama, bahwa sebanyak 600 warga negara Indonesia yang tergabung dalam kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) akan dipulangkan ke Indonesia.

"Badan Penanggulangan Terorisme dalam waktu dekat akan memulangkan 600 orang yang sekarang tersesat di ISIS di Timur Tengah," kata Fachrul dalam sambutannya di acara deklarasi Organisasi Masyarakat Pejuang Bravo Lima di Ballroom Discovery Ancol Hotel, Taman Impian Jaya Ancol pada Sabtu, 1 Februari 2020. Dikutip dari: tempo.co

Hahah…maaf deh yah menurut penulis label kemanusiaan dalam konteks wacana kepulangan WNI eks ISIS rasanya kok justru nggak manusiawi. Lebih tepatnya nggak adil untuk kita orang Indonesia yang manusia. Koplak jika Menag mengatakannya bahwa mereka adalah 600 orang yang sekarang tersesat di ISIS

Menurut penulis manusia itu adalah makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi karena memiliki akal dan budi. Inilah yang kemudian menjadi hakikat orang disebut manusia. Artinya, dia bisa berpikir, mencerna serta menimbang atau mengetahui mana yang baik dan buruk. Sangat berbeda dengan ciptaan Tuhan lainnya seperti pohon dan binatang. Sedangkan kemanusiaan adalah sikap atau prilaku yang mencerminkan manusia itu menjalankan layaknya seorang manusia.

Hahah…lalu bilang tersesat? Penulis tidak mengerti apa dasarnya mengatakan mereka tersesat. Setahu penulis kepergian mereka itu atas kemauannya sendiri karena merasa negeri ini “tidak pantas” untuk mereka. Tergiur dengan mimpi hidup di surga, hingga tega mencoreng bangsanya sendiri. Singkat kata mereka berangkat karena mengejar surga karena keputusan sendiri.

Mungkinkah Menag Fachrul sedang melucu bahkan dirinya saja mengatakan, 600 WNI yang tergabung dalam ISIS itu sebagian besar telah membakar paspor Indonesia agar merasa dekat dengan Tuhan. Maaf, apakah karena “tuhan” sulit ditemui atau nggak mau ditemui lalu balik ke Indonesia? Harusnya yah lebih keras lagi dong mencari “tuhannya”.

Makin tidak mengerti sama sekali dan tolong dijelaskan karena Menag juga yang mengatakan mereka yang 600 orang ini semula percaya ingin membangun sebuah negara yang mengatasnamakan konsep khilafah di Timur Tengah. Tetapi ternyata ISIS berhasil dikalahkan, dan akibatnya ratusan WNI itu kini terlantar.

"600 orang yang sekarang tersesat di ISIS di Timur Tengah. Beberapa dulu tergabung di ISIS untuk mendirikan negara yang mereka namakan khilafah. Mereka sebagian besar membakar paspor Indonesia karena merasa sudah dekat ke Tuhan. Sekarang mereka terlantar di sana,” ujar Fachrul. Dikutip dari: idntimes.com

What alias apa? Duh, konyolnya Menag ini yang lempar bom waktu mengatakan ini kewajiban masyarakat Indonesia untuk bersama mengawasi dan membina mereka ketika nanti pulang? Lha, jelas-jelas mereka itu awalnya di Suriah ingin mendirikan negara khilafah. Kok kocak sekarang diajak pulang. Ngawurnya kok nyata banget yah Menag ini?

Belum lagi dirinya sendiri yang menjelaskan, para teroris bisa membuat orang baik menjadi orang jahat hanya dalam waktu 2 jam. Tapi dalam 2 tahun, belum tentu bisa membuat orang jahat menjadi kembali baik



"Sekarang mereka terlantar di sana dan karena kepentingan kemanusiaan akan dikembalikan ke Indonesia," ujarnya.

Duh…duh…ngerinya pemikiran Menag ini yang lugu dan lembut banget hatinya yah. Apalagi jika benar negeri ini mengizinkan mereka para “pengkhianat” bangsa ini kembali ke tanah air. Salut, angkat jempol tangan dan kaki sekalian aja deh sangking kagumnya.

Padahal ada banyak cerita ngeri mereka eks ISIS yang entah bagaimana bisa kembali ke tanah air. Cerita mereka yang tergiur dengan tawaran pendidikan, pelayanan kesehatan, pekerjaan, hutang yang konon akan dilunasi, dan bahkan janji hidup dalam masyarakat Islam yang ideal.

"Ini tempat yang baik untuk tinggal dalam damai dan adil, dan Insyallah, setelah hijrah, akan akan pergi ke surga. Saya ingin mengajak semua keluarga saya... kami ingin selalu bersama saat hidup dan setelahnya," kata Nurshardrina saat diwawancara AP di tempat perlindungannya di markas tentara Kurdi di Raqqa, Suriah awal Agustus 2017.

Tentunya ada banyak Nurshardrina lain yang secara sadar memilih meninggalkan tanah air demi mengejar “surga”. Kenyataannya mereka mengalami pahitnya hidup di bawah cengkraman ISIS. Bukan rahasia lagi mereka yang wanita menjadi budak seks, dan yang laki-laki dijadikan tentara. Ini belum termasuk kengerian dan kekejaman yang menjadi makanan harian mereka dari hari ke hari. Hingga bukan tidak mungkin ini merasuki kejiwaan dan cara pandang mereka..

Naif mengatakan mereka ini tidak terjangkit virus ISIS yang menurut penulis sama atau bahkan lebih mengerikan dari virus Corona. Siapa yang bisa menjamin eks ISIS nantinya tidak akan menyebarkan paham radikalisme di negeri ini.

Menyinggung sedikit mengenai virus Corona dengan alasan kemanusiaan maka memulangkan saudara kita dari Wuhan jelas manusiawi sekali. Itulah sikap kita sebagai manusia yang memiliki akal dan budi terhadap saudara kita yang kebetulan sedang bekerja atau belajar di Wuhan. Jelas dan wajar negara harus hadiri disana, karena kepergian mereka pun sepengetahuan negara.

Beda banget dengan mereka eks ISIS yang perginya pun diam-diam, dan aslinya karena merasa tidak puas dengan kondisi bangsanya sendiri. Hehe…lha….kok kocak sekarang negara yang disuruh bantuin? Lebih kocak lagi, kita setanah air diminta untuk menerima mereka, mengawasi dan membina mereka? Weleh….weleh…itu namanya cari gara-gara!

Ngeri membayangkan nantinya mereka berpotensi mengembangkan sikap ekstrem sebagai dampak dari lingkungan sosial mereka saat di Suriah. Belum lagi banyak dari mereka berangkat karena ingin hidup di tanah yang menegakkan syariah Islam secara kaffah. Padahal jelas nantinya di tanah air mereka harus hidup di bumi Indonesia yang menjunjung toleransi dan berlandaskan Pancasila. Apa bukannya mereka nantinya jadi penyakit bangsa ini?

Jadi terus terang saja label kemanusiaan sangat tidak tepat untuk ditempatkan sebagai alasan memulangkan WNI eks ISIS ini. Ditengah negeri ini yang masih terus berperang melawan radikalisme kok ngawur justru mendatangkan virus radikalisme itu sendiri secara sadar, fresh from the oven dari dari pabriknya Suriah? Hello….apakah negeri ini masih sehat-sehat saja, atau jangan-jangan ada virus di kabinet Indonesia Maju.

Sumber: https://nasional.tempo.co/read/1302331/menag-fachrul-razi-sebut-bnpt-segera-pulangkan-600-wni-isis/full&view=ok https://www.idntimes.com/news/indonesia/aldzah-fatimah-aditya/menag-fachrul-600-wni-eks-kombatasan-isis-kembali-tanah-air