INFO VIRUS CORONA

Menteri Basuki Ungkap Penyebab Banjir di Jakarta Hari Ini

Foto: Banjir Jakarta di Benhil (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, Pikiran Sehat -
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengungkap pemicu banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Ibu Kota pasca hujan lebat dini hari Selasa (25/2/2020).
Baca juga:Ahok Banyak Gebrakan, DPR Tanyakan Peran 11 Direksi Pertamina
Berbicara di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Basuki mengemukakan masalah drainase menjadi salah satu 'biang keladi' banjir yang terjadi di sejumlah daerah di Ibu Kota.

"Tadi pagi kondisi sungainya yang status siaga 2 di Manggarai dan Karet, yang lainnya masih siaga 4-3. Nanti k kesimpulannya memang drainasenya yang bikin kapasitas lebih kecil dari volume air dan kapasitas hujannya," kata Basuki.

Basuki mengakui bahwa pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR telah melakukan upaya pencegahan banjir. Salah satunya, dengan menyediakan pompa di sejumlah titik rawan banjir.

"Kami membuat pompa di Sentiong, di hilir pompa Ancol. Tapi sekarang open, makanya kalau pasang Kali Item banjir, sekarang udah tender ini mau dibikin pintu kalau air laut pasang nggak bisa lagi masuk," jelasnya.
Baca Juga:Rugi Rp 30 M Sehari, Pengusaha: Banjir Kali Ini Paling Parah
Selain itu, Basuki mengatakan Kementerian PUPR telah memperbaiki sistem drainase di wilayah yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, seperti di wilayah Kemayoran.

"Kalau di Kemayoran kita sudah review drainase sistemnya, termasuk kita besarkan embung Kemayorannya. Makanya sekarang underpass sedikit berkurang 2,4 meter kan tebalnya, karena sebagian sudah masuk ke embung Kemayoran," jelasnya.

Basuki menegaskan bahwa koordinasi dengan pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam penanganan banjir terus dilakukan. Menurutnya, persoalan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi, melainkan juga pemerintah pusat.

"Kalau soal ibu kota negara semua bertanggung jawab, termasuk saya. Jangan dibedakan kewenangan karena ini ibu kota negara. Yang penting jangan ada duplikasi pekerjaan," jelasnya.
(CNBC Indonesia)