INFO VIRUS CORONA

Tak Ada Kelompok Nasionalis Serta Agamis di Politik Indonesia


Pikiran Sehat - Dua priode pemilu yang lalu dianggap oleh banyak orang sebagai representative pergumulan antara kaum Nasionalis dan kaum agamis. Anggapan tersebut terjadi karena pemilu-pemilu yang kerap disertai dengan isu SARA. Meskipun pemilu dengan isu SARA bukanlah hal baru, bedanya belakangan ini terlihat ramai karena pengaruh media sosial dan kemudahan informasi didapat dan disebarkan melalui dunia maya.

Dalam politik yang berbau SARA, orasi politik kerap dikaitkan dengan hal-hal berbau agama, bahkan larangan untuk berkampanye di rumah ibadah pun ditrabas. Tak sedikit tokoh agama menyinggung masalah politik dalam mimbar agama, ada yang bersorak gembira ada juga yang marah karena tak setuju.

Politik yang disertai dengan sentiment SARA tak banyak memakan biaya untuk sebuah analisa program-program yang hendak ditawarkan. Cukup dipantik, maka semua emosi dalam hati orang yang masih dalam ego individiualistik pun memuncak. Jika sudah seperti itu, atas nama Pribumi hingga agama, orang bisa bergerak secara militant dalam mengkampanyekan jago politiknya dengan gratis, bahkan para simpatisan rela mengorbankan banyak hal untuk jago politiknya, dari waktu, harta, hingga empati terhadap sesamapun dikorbankan.



Namun politik SARA yang murah memiliki dampak yang berpotensi memberi kerusakan yang begitu parah terhadap tatanan sosial hingga ekonomi. Konflik horizontal berpotensi terjadi, karena SARA adalah hal yang sangat sensitive.

Di Indonesia yang majemuk, baik itu suku hingga agama, membuat politik SARA seharusnya menjadi sebuah kejahatan politik. Kemajemukan yang menyebabkan meskipun satu agama tetapi berbeda dalam pola pikir. Antar agama yang sama pun tidak mungkin bisa satu suara, apalagi dengan yang berbeda agama. Oleh sebab itu, sangat bahaya jika politik SARA dijadikan kebiasaan atau budaya politik di Indonesia.



Manusia yang diberi akal budi menjadikan tidak semua manusia bisa dibohongi atau ditipu dengan penjahat yang memanipulasi agama sebagai senjata dalam meraih kepentingan pribadi. Mungkin itulah kuasa Tuhan yang tidak mau kesucian setiap agama dinodai dengan oknum-oknum yang menganggap diri sebagai manusia suci tetapi terkadang menodai kesucian dan keagungan Tuhan secara tak disadari.

Lalu bagaimana dengan kaum Nasionalis? Di Indonesia sendiri hampir semua orang mempercayai akan adanya Tuhan, meskipun dengan caranya masing-masing dalam sebuah agama hingga kepercayaan nenek moyang. Orang Nasionalis di Indonesia itu pun adalah orang yang beragama, oleh sebab itu, Nasionalisme dan agama adalah sebagai kesatuan. Dari situ bisa kita simpulkan sendiri, apakah anggapan adanya kelompok Nasionalis doang itu ada? Karena orang Nasioanlis di Indonesia juga adalah orang yang beragama. Cuma bedanya menyadari akan segala perbedaan yang bisa disatukan dalam bingkai kebangsaan..

Sentimen kelompok politik agamis dan nasionalis itu terkesan hanya kata-kata propaganda supaya partai politiknya laku untuk dijual. Toh pada kenyataannya, ada partai yang menganggap kelompok mereka partai Dakwah, tetapi ketua umum atau pucuk pimpinannya terbukti melakukan korupsi hingga terlibat skandal wanita. Lalau ada juga kelompok yang mengaku Nasionalis, tetapi membiarkan intoleransi terjadi, padahal hal tersebut berpotensi merusak nasionalisme itu sendiri.

Jika ingin menjadikan demokrasi kita menghasilkan pemimpin serta kebijakan-kebijakan yang berkualitas, tak perlu menjual agamis dan nasioanalis dalam kata. Tetapi lakukanlah hal-hal baik yang mencerminkan bagaimana seharusnya orang beragama. Lakukan juga hal-hal yang mencerminkan nasionalisme dengan selalu menjaga keadilan sosial bagi seluruh Indonesia serta selalu berusaha menjaga persatuan dan kesatuan negeri ini. Apapun sukunya, apapun agamanya, sebaiknya tak perlu mencampur adukan dalam urusan politik. Jika mau menjadi hasil demokrasi, adu gagasan untuk kebaikan bersama itulah yang sangat dibutuhkan. Hal-hal tersebut harus dimulai dari tokoh-tokoh politik hingga tokoh agamanya masing-masing. Namun sialnya, tokoh politik, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan lain sebagainya pun terkadang memiliki kepentingannya sendiri yang membuat terkadang tak perduli dengan kualitas demokrasi negeri ini. Jika sudah begini, cara satu-satunya yang bisa menyelamatkan demokrasi adalah memperbaiki sumber daya manusianya. Membentuk pola pikir kritis supaya tidak mudah dibohongi dengan orang-orang brengsek yang berjualan orasi hingga ayat-ayat yang dianggap suci untuk kepentingan pribadi dan golongannya semata. Udah ah, itu aja… Cak Anton