INFO VIRUS CORONA

TNI/Polri Pukul Mundur KKB dari 4 Kampung di Tembagapura, Letkol Dax Sianturi Beber Rahasia KKB


Pikiran Sehat - Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sempat menduduki beberapa kampung di Tembagapura hingga ribuan warga mengungsi ke marakas tentara dan polisi.Terbaru, petugas gabungan dari TNI-Polri berhasil mengusir KKB dari empat kampung yang sebelumnya diduduki kelompok separatis Papua ini.

Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw mengatakan,  petugas gabungan dari TNI-Polri sudah menguasai empat kampung di Tembagapura, Papua, Diketahui ada empat kampung di Tembagapura yang kosong karena ditinggalkan warganya mengungsi ke Timika.

Keempat kampung tersebut, yaitu Kampung Longsoran, Batu Besar, Kimbeli, dan Banti.

"Kami sekarang sudah menguasai tempat-tempat yang kemarin mereka masuk dan kemudian masyarakat pergi. Jadi sekarang kampung-kampung lebih baik keadaannya," ujar Waterpauw di Jayapura, Jumat (13/3/2020).

Dia mengatakan, situasi di Tembagapura sampai saat ini relatif kondusif. Namun, masih ada beberapa aksi yang dibuat oleh KKB di sekitar Kampung Opitawak. "Ini mengartikan bahwa memang ada aksi kelompok ini di sekitar lokasi situ," ujar Kapolda.
Baca juga:Jokowi Tunjuk Doni Monardo Jadi Panglima Pemberantas Corona
Waterpauw mengaku petugas masih mencari tahu rencana yang dibuat KKB di kampung tersebut. Ia menegaskan petugas gabungan TNI/Polri akan terus melakukan penegakan hukum dengan tindakan tegas dan terukur.

"Kami akan terus lakukan penegakan hukum sampai maksimal karena mereka sangat menakutkan (bagi) masyarakat," kata Waterpauw.

Mantan Kapolda Sumut ini mengatakan, ada 5-6 kelompok kriminal bersenjata yang masih berada di Tembagapura,Mimika, Papua. "Mereka ( KKB) sebenarnya tidak banyak, tetapi mereka ada sekitar 5-6 kelompok yang selama ini bertengger di Puncak, Intan Jaya, kemudian Nduga. Itu mereka semua bergabung termasuk juga yang di Timika," kata Waterpauw.

Waterpauw mengatakan, KKB yang kini berada di Tembagapura, yaitu di antaranya KKB pimpinan Lelagak Telenggen, Egianus Kogoya, Jhony Botak, dan Gusbi Waker. Saat ini ada sekitar 3.000 personel gabungan TNI-Polri yang berjaga di Mimika.

Polda Papua juga sudah mengajukan penambahan personel ke Mabes Polri."Kami sudah ajukan penambahan pasukan, tapi masih lihat perkembangan situasi. Dengan kekuatan kita yang sekarang, kita bisa kuasai situasi di sana saya pikir masih cukup," kata Waterpauw. Waterpauw menyebut, jumlah pengungsi di Kota Timika mencapai 1.700 jiwa. "Kurang lebih sudah 1.700 warga mengungsi dan sudah didata Pemda dan kami membantu," ujarnya.


Para pengungsi yang berada di Timika itu ingin segera kembali ke rumah mereka di Tembagapura. Mereka ingin beraktivitas seperti biasanya. Para pengungsi, kata Paulus, berharap aparat keamanan segera mengusir para KKB yang berada di wilayah Tembagapura. "Mereka berharap harus menghindar dari kelompok-kelompok ini karena kalau tidak ada kelompok ini mereka senang melakukan aktivitasnya," kata dia.

Diberitakan sebelumnya, warga di Tembagapura minta dievakuasi karena kelompok kriminal bersenjata (KKB) dari berbagai wilayah di pegunungan Papua sudah berada di sekitar kampung mereka. Anggota KKB menebar teror dengan menembaki pos penjagaan TNI - Polri. Aksi itu membuat warga merasa terancam. Hingga kini, sebanyak 1.700 warga Tembagapura sudah mengungsi ke Timika.

Sebelumnya Wakil Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih, Letkol Inf Dax Sianturi memberikan analisis turunnya Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dari pegunungan ke Tembagapura.

Menurut Dax Sianturi ada dua KKB, yakni Legakak Telanggen yang biasa beroperasi di wilayah Yambi, Kabupaten Puncak, dan KKB Militer Murib kelompok Intan Jaya yang turun ke Tembagapura.

Dax Sianturi menduga kehadiran Legakak Telanggen dan Militer Murib, masuk ke Tembagapura yang merupakan wilayah Johny Botak (KKB Kali Kopi) punya agenda terselubung.

Yakni merampas harta warga Tembagapura dan menyingkirkan Pentolan KKB paling senior Goliat Tabuni.

Berikut analisa Letkol Inf Dax Sianturi yang diunggah di akun Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi:

Sejak bukan Desember 2019 telah terjadi peningkatan aksi teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok separatis bersenjata di wilayah Papua.

Aksi teror yang dilakukan kelompok-kelompok tersebut tercatat terjadi di wilayah Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Nduga, Kabupaten Mimika, Kabupaten Puncak, Kabupaten Keerom dan Kabupaten Pegunungan Bintang.

Bahkan dalam klaim terakhir yang dikeluarkan Jubir TPNPB OPM menyatakan bahwa 33 kelompok TPNPB OPM sudah siap menyerang lokasi PT Freeport di Tembagapura, Kabupaten Mimika.

Benarkah kelompok-kelompok tersebut benar-benar bersatu?

Jawabannya : TIDAK

Sepanjang sejarah aksi OPM hampir tidak pernah ada aksi gabungan.

Penyatuan organisasi mereka dalam organisasi TPNPB OPM sebenarnya tidak lebih pada bentuk solidaritas sesama kelompok bersenjata dibandingkan sebagai bentuk integrasi organisasi yang valid dan operasional.

Pada faktanya, aksi-aksi yang dilakukan lebih pada inisiatif dari pimpinan masing-masing kelompok dengan wilayah operasi masing-masing.

Kita tidak boleh melupakan bahwa anggota kelompok-kelompok tersebut berasal dari berbagai suku dan wilayah yang berbeda, dan dalam budaya suku-suku di Papua, setiap suku mempunyai kewajiban mempertahankan wilayah sukunya dari intervensi suku lain.

Budaya ini pun masih dijalankan oleh kelompok-kelompok separatis ini saat melaksanakan aksinya.

Sebagai gambaran, sejauh ini sangat jarang terdengar ada kelompok separatis dari Nduga melakukan aksi di wilayah Puncak, begitu pun sebaliknya.

Menjadi menarik ketika beberapa hari lalu, Lekagak Talenggen, pimpinan kelompok separatis di wilayah Yambi, Kabupaten Puncak, tiba-tiba mengklaim bahwa kelompoknya saat ini sudah berada di Tembagapura, Kabupaten Mimika.

Melalui Jubir TPNPB OPM, Lekagak menyatakan bahwa dia bersama dengan 33 kelompok separatis bersenjata lainnya telah siap menyerang lokasi obyek vital nasional PT Freeport.

Faktanya, berdasarkan informasi yang didapat dari sumber yang dekat dengan Lekagak, hanya ada 2 kelompok yang berasal dari luar wilayah Mimika yang saat ini termonitor bergerak menuju Tembagapura.

Sedangkan 1 kelompok lagi memang adalah kelompok separatis "lokal" di Mimika pimpinan Johny Botak, yang selama ini dikenal dengan kelompok Kali Kopi.

"Intervensi" Lekagak Talenggen (kelompok Yambi) dan Militer Murib (kelompok Intan Jaya) masuk ke wilayah kelompok Johny Botak patut diduga sebagai upaya Lekagak Talenggen untuk merebut kursi pimpinan TPNPB OPM yang selama ini diduduki "Jenderal Besar" Goliath Tabuni.

Menurut sumber yang mengenal dekat Lekagak, dia merasa terancam dengan "popularitas" Egianus Kogoya yang beroperasi di wilayah Kabupatena Nduga.

Lekagak membutuhkan suatu aksi yang benar-benar bisa mengangkat namanya diantara kelompok-kelompok separatis lainnya.

Dan itu tidak bisa dilakukan bila Lekagak bertahan di Yambi yang notabene jauh dari perhatian publik.

Kedatangan kelompok Lekagak dan Militer Murib ke Tembagapura juga bertujuan untuk "mengganggu" posisi Johny Botak yang selama ini beroperasi di wilayah Tembagapura.

Terlebih lagi, baik Lekagak maupun Militer Murib, tahu persis bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat Mimika jauh lebih tinggi dibanding masyarakat Puncak dan Intan Jaya.

Dengan melaksanakan aksi teror di Mimika mereka tentu berharap mendapat "keuntungan" yang lebih besar dengan cara memeras atau menjarah harta milik masyarakat yang ada di Mimika.

Lekagak juga menjalankan aksi liciknya untuk "menyingkirkan" kelompok Johny Botak.

Dengan melakukan aksi di Tembagapura, Lekagak dengan sengaja memancing aparat untuk melakukan pengejaran dan penindakan terhadap kelompok separatis di Mimika yang jelas-jelas kebanyakan adalah berasal dari kelompok Johny Botak.

Dengan demikian Lekagak akan terlihat "bersih" di mata kelompok lainnya.

Sumber lainnya mengatakan bahwa Johny Botak sendiri sudah mencium akal licik dari Lekagak dan Militer Murib.

Ketika mendengar kedatangan kedua kelompok yang berasal dari luar Mimika tersebut, Johny langsung memerintahkan anggotanya untuk "merapat" ke posisi kedua kelompok tadi.

Pada dasarnya, Johny ingin mengawasi sepak terjang kelompok dari luar Mimika.

Baginya harga diri suku adalah segalanya. Tidak boleh ada kelompok dari luar Mimika yang menguasai Mimika.

Persaingan antar kelompok separatis ini tentunya sudah sejak lama berakibat pada penderitaan warga Papua.

Aksi teror dan kekerasan yang dilakukan demi prestise kelompok telah memakan banyak korban baik dari pihak masyarakat maupun aparat.

Sayangnya, tidak banyak orang yang jeli mengamati fenomena ini, meskipun sesungguhnya persaingan ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan kelompok pendukung Papua Merdeka.
(TRIBUNNEWS-MEDAN)