INFO VIRUS CORONA

Jokowi Ungkap Kelangkaan Gula di 30 Provinsi, Mendag Sebut Ada BUMN yang Main

Ilustrasi gula pasir. Foto: ANTARA FOTO/Fauzan

PikiranSehat.com - Harga gula membubung tinggi sejak akhir Januari alias 3 bulan lalu. Kini harganya menembus Rp 20.000 per kilogram (kg), jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah yakni Rp 12.500 per kg.

Di tengah pandemi virus corona dan Ramadhan saat ini, meroketnya harga gula tentu menambah beban rakyat. Apalagi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah memperingatkan adanya potensi krisis pangan setelah pandemi COVID-19.
Baca juga:Sebut Corona Konspirasi, Jerinx Kena Semprot Dokter Tirta
Bagaimana upaya pemerintah meredam gejolak harga gula? Berikut rangkuman dari kumparan, Rabu (29/4):

1. Jokowi Sebut Ada Defisit Gula di 30 Provinsi
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat terbatas bersama para menterinya, mengungkapkan adanya defisit gula di 30 provinsi. Tak hanya gula, stok bawang putih pun tak jauh berbeda.
"Stok untuk minyak goreng diperkirakan cukup untuk 34 provinsi. Tapi untuk stok gula pasir diperkirakan defisit di 30 provinsi dan stok bawang putih diperkirakan defisit di 31 provinsi," kata Jokowi dalam sambutannya saat membuka rapat secara virtual, Selasa (28/4).

Untuk itu, dia ingin ada langkah antisipasi yang dilakukan para menterinya. Misalnya pendistribusian bahan pokok secara merata.
Presiden Joko Widodo menyampaikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta pada Jumat, (24/4).  Foto: Dok. BPMI Setpres/Muchlis Jr

Artinya, jika ada daerah yang surplus, maka bisa didistribusikan pada daerah yang mengalami defisit stok bahan baku.
"Saya ingin dilakukan hitungan yang cepat, asesmen yang cepat terhadap kebutuhan bahan pokok setiap daerah setiap provinsi agar dihitung mana provinsi yang surplus, mana provinsi yang defisit, berapa produksinya, semuanya harus kita hitung," ujarnya.

2. Mendag Ungkap Ada BUMN yang Mainkan Harga Gula
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengungkapkan, ada perusahaan yang melakukan kecurangan dalam pelelangan gula. Kecurangan ini membuat harga gula eceran di pasar melambung.
"Ada penemuan pelelangan terjadi pelelangan sebesar Rp 12.900 per kg. Nah ini sehingga menimbulkan harga ke distributor Rp 15.000 per kg dan harga ke agen lebih dari 15.000, ujungnya di pasaran sekitar Rp 17.000 per kg," urainya saat konferensi pers virtual, Selasa (28/4).

Sementara itu, Kabareskrim Polri, Komjen Listyo Sigit mengungkapkan, salah satu perusahaan yang melakukan kecurangan adalah PTPN II di Sumatera Utara. BUMN ini telah melakukan kecurangan lelang gula di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

"Satgas Pangan sudah melakukan penindakan di Sumatera Utara atas tindakan PTPN II yang melakukan lelang produk gula sebesar Rp 12.900 per kg, bervariasi. Dan sempat kami lakukan police line," imbuhnya.

3. Rantai Distribusi Gula Kepanjangan
Ketua Satgas Pangan Brigjen Pol Daniel Tahi Monang menyampaikan, rantai distribusi yang terlalu panjang membuat harga gula di tingkat konsumen tinggi. Ia menyebut ada 4 tingkat distributor sebelum gula sampai ke agen.
"Kita lihat ada disparitas karena memang ada beberapa lompatan distributor mulai dari 1 sampai distributor 4 baru sampai di agen. Mau tidak mau ini harus dipangkas,” jelasnya melalui konferensi video virtual, Selasa (28/4).
Daniel mengatakan, berdasarkan penelitian di lapangan harga gula memang masih tinggi, khususnya di pasar tradisional. Sementara untuk gula di ritel modern harganya masih sesuai HET.

“Di mana di ritel modern harganya bisa sesuai harapan sampai ke end user atau masyarakat Rp 12.500 per kg,” tuturnya.
***