INFO VIRUS CORONA

Anak SD Pedagang Es, Kini Jadi Konglomerat hingga Punya Pabrik Semen

Ilustrasi pedagang es balok. Foto: Antara/ kumparan

PikiranSehat.com - Bulan Ramadhan cuaca terik, sajian berbuka yang dingin segar pun sangat digemari. Menyadari itu, berjualan es balok menjadi peluang bisnis yang menarik. Untuk seorang anak SD tentu terlalu berat memikul es balok. Tak kehilangan akal, es itu dicacah kecil-kecil sehingga muat ke dalam termos. Es itulah yang dijajakan keliling kampung.

Di usia yang masih sangat belia untuk ukuran anak SD -saat itu namanya masih Sekolah Rakyat (SR)- jiwa bisnisnya sudah mulai tumbuh. Padahal dia ‘hanya’ seorang anak kampung biasa. Desanya bernama Lapassu di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Ayahnya adalah seorang petani, pekerjaan yang tak berhubungan dengan jiwa dagang yang berkembang di diri sang anak.

Selain berjualan es, di waktu lain dia juga berjualan kurma. Sama-sama memanfaatkan momentum bulan puasa.
Baca juga:Pasokan Melimpah, Kementan Ingin Tingkatkan Ekspor Sayuran Segar
Jiwa dagangnya, tak menghambat jalannya untuk meraih pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dari SR, dia melanjutkan ke Sekolah Teknik, setingkat SMP. Demi mengejar jenjang pendidikan lebih tinggi, dia merantau dari Barru ke Pare-pare. Tak sampai di situ, dia lanjutkan lagi ke STM dan kemudian berkuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Hasanuddin, Makassar.

Proses kuliahnya tak berjalan mulus, karena gejolak politik transisi kekuasaan nasional di tahun 1965-1966. Bekerja di perusahaan milik saudagar Makassar, Hadji Kalla, menjadi jenjang dunia kerja pertama setelah kuliah. Perjalanan dan takdir mengantarnya berjodoh dengan puteri Hadji Kalla.

Posisinya sebagai pekerja sekaligus menantu pemilik usaha, tak membuatnya berleha-leha. Pada 1973, dia justru keluar dari perusahaan Sang Mertua. Pertimbangannya, karena menurut dia tak pernah ada dua nakhoda di satu kapal. Artinya, dia tak mungkin mencapai puncak karier atau bahkan jadi pemilik dari satu perusahaan yang sudah dimiliki orang lain.

Dialah Aksa Mahmud, yang kini dikenal sebagai profil orang sukses, pengusaha nasional asal Sulawesi Selatan.

Keluar dari NV Hadji Kalla, maka dia pun mendirikan perusahaan sendiri. CV Moneter, namanya. Berbekal kredit dari Bank BNI senilai Rp 5 juta, perusahaan itu menjadi penyalur mobil Datsun di Makassar. Sukses berbisnis otomotif, pada 1980 Aksa Mahmud ditawari menjadi penyalur Mitsubishi untuk wilayah Indonesia timur. Nama perusahaan pun berganti jadi PT Bosowa Berlian Motor.
Pekerja pabrik semen Bosowa milik Aksa Mahmud. Foto: Dok. bosowa.co.id

Di era 80-an itu, bisnis otomotif berkembang pesat. Bisnis Bosowa yang dirintis Aksa Mahmud terus membesar. Dia pun mulai membangun pabrik semen di bawah bendera PT Semen Bosowa. Nama Bosowa sendiri merupakan akronim dari tiga kerajaan besar di Sulawesi zaman dulu kala. Yakni Bone, Soppeng, dan Wajo.

Kini Bosowa telah berkembang jadi konglomerasi nasional. Ada enam sektor  usaha yang dikelola Bosowa, yaitu otomotif, semen, pertambangan dan energi, jasa keuangan, properti dan pendidikan. Selain menjalankan grup usaha intinya, Bosowa juga menjalankan sejumlah proyek perintis di bidang media, olahraga dan agrokultur.

Menurut majalah Forbes tahun 2018, Total kekayaan Aksa Mahmud mencapai 1 milyar dollar AS atau sekitar 13 triliun rupiah. Aksa Mahmud menempati posisi ke 32 dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Kini bisnis Bosowa sudah dikelola oleh anak-anak Aksa Mahmud.