INFO VIRUS CORONA

GOR Ciracas Ide Anies dan Derita Pemulung yang Terkurung

Para pemulung dan tunawisma ditampung untuk sementara di GOR Ciracas selama pemberlakuan PSBB. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, PikiranSehat.com -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berinisiatif menyediakan sejumlah fasilitas seperti Gelanggang Olahraga (GOR) sebagai penampungan sementara bagi para pemulung atau mereka yang tak memiliki tempat tinggal di masa pandemi virus corona (Covid-19). Salah satunya adalah GOR Ciracas, Jakarta Timur.

Kebijakan itu dilakukan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus corona di antara para pemulung atau tunawisma yang berpotensi meluas.

Meski begitu, kebijakan itu tak lantas bisa membahagiakan semua pihak. Sebut saja Rizal, pemulung 65 tahun yang saban hari bersama gerobaknya keluyuran di setiap jalanan Ibu Kota. Jumat (1/5) siang itu ia tak lagi bisa berada di jalan.
Baca juga:Viral Sopir Ojol Dilarang Pulang Cewek Pelanggannya, Ternyata...
Saat ditemui CNNIndonesia, Rizal tengah duduk di velbet berukuran kurang lebih 1×2 meter dalam ruangan besar bersama puluhan pekerja jalanan lain di GOR Ciracas, Jakarta Timur.

Lima orang di sekitarnya terlihat asyik berbincang, namun ia tak ikut serta. Katanya, dia sudah tak kerasan berada di penampungan sementara tersebut.

Dalam benaknya hanya ada kecemasan akan nasib sang istri yang menunggunya di rumah. Maklum, istrinya amat bergantung dari hasil keringat.

"Di rumah [istri] kan membutuhkan kita sehari-harinya," ucap dia.

Maklum, Rizal adalah satu-satunya harapan di keluarganya. Ia mengaku masih mengontrak di sebuah kontrakan petakan di Kampung Sawah, Halim, Jakarta Timur.

"Kalau kita terkurung begini mau tak mau ibu [istri] menunggu saya. Buat makan sehari-hari kan [sudah] susah," lanjutnya.

Sejak hari pertama ditampung di GOR, Selasa (28/4), ia mengaku tak pernah berkomunikasi dengan sang istri. Pasalnya, Rizal tak punya telepon seluler dan berharap bisa segera dipulangkan.

Serupa dengan Rizal, Hendi pun demikian. Pria 30 tahun itu masih punya tempat tinggal. Meski kecil namun kata dia, kenyamanan di rumah sendiri tidak bisa tergantikan.

"Sejelek-jeleknya gubuk kan mending gubuk sendiri. Tempat tinggal sendiri, daripada di sini," tuturnya.

Bila Rizal diangkut sendirian, Hendi digiring ke GOR bersama dengan istri, tiga anak, dan satu mertuanya.

"Arah mau pulang [sehabis memulung] kami dibawa Satpol PP. Sekitar jam 2 siang, kemarin [Kamis, 30/5]," tutur Hendi.

Mengais barang rongsokan bergerombol sekeluarga sudah menjadi pekerjaan rutin mereka. Hal ini kata Hendi dilakukan agar bisa mengumpulkan banyak barang dalam satu hari.

Pemprov DKI memang melarang orang-orang berkerumun selama pemberlakuan PSBB. Namun, Hendi mengaku tak tahu banyak soal PSBB. Yang dia tahu hanya mencari nafkah.

Sempat melamun, Hendi bercerita anak-anaknya yang masih balita sudah mulai rewel, meskipun mereka baru satu hari berada disana.

Ia pun mulai khawatir tak bisa keluar jika tidak ada orang yang mau menjadi penjamin. Dia pernah mendengar cerita dari seseorang di tempat itu juga.

"Kalau mau keluar katanya harus ada penjaminnya, tapi saya tidak tahu yang bisa tolong kalau begini," lanjutnya.

Penjamin sendiri ialah orang yang bisa menjanjikan orang yang saat ini tengah ditampung di GOR tidak akan beraktivitas kembali di luar rumah.

"Kalau ke panti sosial nanti tidak tahu lagi harus bagaimana. Saya juga takut bos yang katanya mau jemput tidak jadi," lanjut Hendi.

Bos yang dimaksud Hendy tampaknya para penampung barang-barang rongsokan atau hasil memulung lainnya untuk dijual kembali.  Hendi pun berjanji jika ia dan keluarga diperkenankan keluar dari tempat itu, ia akan mencari barang rongsokan sendirian saja.

"Memang biasanya ramai-ramai [cari rongsokan]. Tapi ini jadi pelajaran buat saya. Anak istri bakal disuruh di rumah saja. Biarin saya kerja keras sendiri," katanya.

Hendi dan Rizal pun berharap agar bisa segera keluar dari tempat penampungan itu.

Kepala Suka Dinas Sosial Jakarta Timur, Pranowo, mengatakan bahwa setiap orang tertampung di sana pasti ada alasannya. Contohnya, kata dia, baik Hendi atau Rizal mungkin saja sudah melanggar ketertiban umum.

"Adapun mereka bisa sampai ada di GOR Ciracas, kemungkinan melanggar ketertiban umum sehingga terjangkau oleh Satpol PP," ujar Pranowo melalui pesan singkat, Jumat (1/5).

Selanjutnya ia pun berjanji bahwa setiap orang yang terbukti memiliki keluarga dan punya tempat tinggal akan diperbolehkan pulang.

"Bagi mereka yang punya rumah dan punya sanak keluarga akan dikembalikan ke keluarganya," kata Pranowo.