INFO VIRUS CORONA

Ini Skenario Pemerintah Jika Corona Tak Mereda di Daerah

Petugas kepolisian yang mengenakan kostum menyeramkan 'Celuluk' melakukan sosialisasi langkah-langkah pencegahan COVID-19 di Pasar Tradisional Sempidi, Badung, Bali, Foto: ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF

JAKARTA, PikiranSehat.com – Pemerintah menyiapkan skenario jika pandemi virus corona (covid-19) tak mereda di sejumlah daerah dalam waktu dua sampai tiga bulan ke depan.
Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) Jaleswari Pramodharwardani mengatakan, skenario ini meliputi upaya mitigasi demi menekan penyebaran virus corona, terutama di wilayah timur Indonesia. Wilayah ini yakni Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Maluku.

“Kita perlu mempersiapkan beberapa skenario jika pada dua sampai tiga bulan ini di daerah-daerah tersebut covid-19 tidak mereda,” ujar Jaleswari dalam rapat Penanganan Covid-19 di Kawasan Timur Indonesia melalui keterangan tertulis, Minggu (17/5).

Jaleswari menuturkan, prioritas saat ini adalah mengantisipasi transmisi lokal dari para pemudik serta memutus rantai penularan dari orang yang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP).
Baca juga:Bagi Kaum Pria yang Sudah Bolong Puasa, Ini Kata Via Vallen
Selain itu, kata dia, kerja sama pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menyelesaikan berbagai kendala yang masih dihadapi. Termasuk masalah kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis dan juga penyaluran bantuan sosial.

“Kita tidak bisa melihat penanganan covid-19 ini sebagai kerja sektoral, tapi membutuhkan solidaritas nasional. Kita perlu membangkitkan modal sosial berdasarkan keunikan daerah masing-masing,” katanya.

Dalam rapat tersebut, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah menyampaikan pembatalan rencana penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di 24 kabupaten/kota di Sulsel. Saat ini PSBB baru diterapkan di Kota Makassar.

Ia beralasan masyarakat sudah memiliki disiplin tinggi dan menerapkan inovasi lokal untuk mengatasi persebaran corona. “Kami melakukan isolasi didukung pemenuhan logistik dan bekerja sama membentuk program duta covid-19. Hampir tidak ada gejolak di daerah, kami juga membuat posko pengaduan,” ucapnya.

Di sisi lain, Nurdin menyatakan pemprov Sulsel telah menyediakan lima rumah sakit untuk menangani pasien covid-19 dengan gejala ringan dan lima rumah sakit yang dilengkapi ventilator untuk menangani pasien dengan penyakit penyerta.

“Jumlah pasien terus menurun. Kami punya target akhir Mei ini sudah tidak ada kasus dan dideklarasikan sebagai daerah hijau. Kami berupaya keras karena Sulsel sebagai salah satu lumbung pangan nasional, tidak boleh terganggu covid-19,” tuturnya.

Sementara Wakil Gubernur NTB Sitti Djalilah menyatakan, kasus covid-19 di NTB saat ini terkontrol dengan baik. Pihaknya saat ini fokus pada penanganan kasus covid-19 yang berasal dari klaster Gowa, Sulsel.

“Tugas besar di NTB adalah klaster Gowa yang sudah rapid test dan ada masyarakat yang reaktif. Seluruh warga yang reaktif sudah dikarantina dan jika ada yang positif harus dirawat di RS,” katanya.

Data kasus covid-19 di Indonesia per Minggu (17/5) mencapai 17.514 kasus. Dari jumlah itu, 4.129 orang dinyatakan sembuh, dan 1.148 orang lainnya meninggal.

Pada April lalu, Sulsel tercatat menjadi provinsi tertinggi di luar Pulau Jawa yang memiliki kasus pasien positif covid-19. Untuk itu pemprov Sulsel menerapkan PSBB dan telah diperpanjang. (cnnindonesia/ags)