INFO VIRUS CORONA

Wanita Ini Mau Jual Stok Timbunan Maskernya via Twitter, Eh Malah Dibully ... Kapok!

Ilustrasi Timbunan Masker
PikiranSehat - Saya tak pernah lupa betapa "sakit hatinya" (meski cuma sebentar) pas berburu masker di sana-sini sewaktu awal pandemi Corona melanda negeri ini. Belum lagi saat itu daerah sekitar rumah saya juga sempat kena guyur "abu Merapi", sehingga kalau mau beraktivitas di luar rumah kudu pakai masker ... tapi barangnya langka. Kalaupun ada ... dibanderol mahal, minimal 5.000 rupiah per bijinya!

Kegeraman yang sama dirasakan oleh masyarakat, karena di saat kebutuhan masker dirasa mendesak, eh malah ada oknum-oknum semprul yang memakai kesempatan ini untuk mengeruk keuntungan. Mereka beli masker banyak-banyak buat ditimbun, lalu dilepas ke pasar dengan harga selangit, sampai 200-300 ribu per boks untuk 25 biji masker. Malah ada yang jual di atas harga itu..!
Baca juga:PSBB Jakarta Tahap 2: Pemudik Terancam Dilarang Balik ke Jakarta hingga 20 Juta Masker
Nah, sekarang lagi ramai "aksi balasan" ... kalau boleh saya sebut begitu, dari para netizen terhadap seorang yang diduga menimbun masker, t'rus sekarang mau dijual lagi (masih dengan harga tinggi) dengan bahasa yang memohon-mohon.

Begini isi cuitan dari akun "cewegendut" yang bisa kita lacak dengan akun Twitter@ganghwacho23:

"Twitter please do your magic. JUAL RUGI masker Multi One Plus, 150 ribu/box isi 50. Ada 25 karton, 1 karton 40 box. Plis, jual murah, lagi butuh duit bgt, habis kena musibah. Itu saya udah rugi, belinya 185 ribu. Kirim via JNE, J&T. COD oke wilayah Malang. Minat DM.@infomalang pic.Twitter.com/EI6JLORGyC 0000

Saya kira sih, nggak akan ada yang minat, meski orang ini sudah "banting harga" dengan selembar masker dibanderol Rp. 3000-an. Apalagi sekarang harga masker juga sudah berangsur kembali ke harga normal, dengan banyaknya penjual masker yang mematok harga lebih murah, dengan banyak variasi, atau malah bisa bikin sendiri dengan belajar dari Youtube.

Menariknya, cuitan tersebut bukannya mengundang simpati t'rus orang pada nge-DM si cewek itu, tapi malah berkomentar agak keras, sebagian lagi sangat menohok, seperti beberapa contoh berikut ini :

KARMA NIMBUN MASKER... Kami semua butuh duit dan kesehatan mba, grgr penimbun kek situ kesehatan org2 terancam dan skrng situ malah mohon2... semoga lekas stabil harga masker. (@wawayiqbalw_)

Ada yang ngasih saran agar si cewek tadi berderma:

Bagi2 gratis aja, sumbangin ke rumah sakit, puskesmas, abang ojek biar bisa jadi Berkah, dan jangan lupa meminta Ampun untuk tidak mengulangi lagi perbuatan menimbun barang di atas penderitaan orang. (@HANTZadidas)

Kalau ini malah ngasih saran agar maskernya dipakai sendiri:

1 karton @ 40 box, per box isi 50 masker = 50.000 pcs masker, jadi kalau mbak pake sendiri per hari ganti 1 pcs, bisa 137 TAHUN baru habis. Mantap ga tuh, pas ditanyain malaikat munkar-nankir sampean msh sempet make masker timbunan. Maaf sekedar mengingatkan. (@pramudya_andi)

T'rus yang bisa dibilang epic, akun Twitter@Fredibunzy berbaik hati ngitungin potensi kerugian yang dialami si cewek tadi:

Mba aku bantu itung yah mba mumpung aku lgi baik. 1 karton @ 40box di kali 25 karton = 1000box Kalo misal nih misal harga beli anggep aja harga jua yg kata mba rugi yaitu 1 box 150k jadi 150k x 1k box = 150jt... Tuh mba totalan ruginya kalo gak kejual...semoga gk kejual, aminn. 

Netizen yang terakhir ini lumayan baik ya, mau ngitungin segala potensi kerugian kalau masker yang seabrek itu sampai nggak terjual. Meski saya juga setuju dengan komentar di atasnya, biar masker itu dipakai sendiri ... t'rus biar waktunya nggak sampai 137 tahun, dipakai sekali tiga lapis saja, biar masker-masker timbunan itu habisnya cuma kisaran 45-50 tahun. Kalau 173 tahun kan keburu orang itu ko'it...!.

Ah, sekali lagi Corona memberi pelajaran berharga bagi manusia yang hobinya menimbun barang, dengan harapan bisa meraup untung luar biasa banyaknya, meski dengan konsekuensi dicaci-maki orang seluruh Indonesia.

Kini, si cewek tadi tinggal menanti apakah cuitannya per 28 April 2020 tadi berhasil mengeluarkan "barisan pahlawan" dari dompet-dompet para netizen, atau malah netizen semakin semangat mengeluarkan "aksi balasan" karena masih belum bisa melupakan atau menolak move-on dari aksi para penimbun masker yang tanpa kira-kira menguras dompet ketika masyarakat sedang sangat membutuhkan masker.

Eh, nasibmu mbaaak...! Siapa suruh kulak, eh nimbun masker sebanyak itu! Kapok! (Seeword)