INFO VIRUS CORONA

Mau Fitnah Jokowi, Bac*t Fadli Zon Disleding Ferdinand Dengan Sukses!


PikiranSehat -
Entah kapan ya kasus-kasus lama Fadli Zon diproses oleh pihak berwajib. Terus terang saya gemes banget. Dari soal hoaks Ratna Sarumpaet hingga lagu Potong Bebek Angsa yang diganti liriknya. Entah apa yang bikin Fadli Zon ini seakan kebal hukum. Bahkan ketika partainya sendiri, Gerindra, sudah bergabung dalam koalisi partai pengusung pemerintahan Presiden Jokowi, Fadli Zon tetap saja begitu. Tidak pernah berhenti nyinyir, pernyataannya tendensius, selalu menyentil bahkan cenderung melemparkan fitnah pada pemerintahan Presiden Jokowi. Entah lah, mungkin ada sesuatu di dalam diri Fadli Zon yang memberikan suplai informasi penting bagi pihak intelijen? Saya berusaha berpikiran positif saja. Dan hanya itu yang ada dalam bayangan saya sekarang…

Nah, karena kasus-kasus lama Fadli Zon ini nggak juga diproses sama aparat. Akhirnya saya pun berharap banyak pada para politisi pendukung pemerintah, yang bisa jadi tandingan bac^tnya Fadli Zon. Misalnya Ali Mochtar Ngabalin dan Farhat Abbas. Dalam beberapa momen, Ali Ngabalin sempat berdebat keras dengan dan mengalahkan nyinyiran Fadli Zon. Namun tidak setiap saat. Tambah ke sini tambah dikit frekuensinya. Apalagi Farhat Abbas, hanya sejenak saja di masa Pilpres 2019. Padahal waktu itu saya sempat semangat melihat bagaimana Farhat bisa ngegas melawan Fadli Zon. Sayang tidak tembus Pileg ya.

Baca juga: Banyak Pelajar Ikut Demo, Anies Baswedan : Bagus Dong

Oleh sebab itu, saat ini harapan saya terhadap sosok yang bisa menandingi bac^tnya Fadli Zon tinggal Ferdinand Hutahaean. Dan mundurnya Ferdinand dari partai Demokrat menambah harapan itu. Kali aja Ferdinand bisa bergabung dengan PDIP, biar lebih joss hehehe… Ya itu nggak bisa dipaksakan sih. Yang pasti, saat ini Ferdinand lah yang nampaknya jadi paling sanggup membungkam bac^t Fadli Zon. Seperti yang terjadi baru-baru ini, terkait dengan penangkapan beberapa petinggi KAMI oleh aparat kepolisian.

Menanggapi penangkapan tersebut, seperti biasanya, Fadli Zon memberikan tanggapan tendensius. “Cara2 lama dipakai lagi di era demokrasi. Malu kita pd dunia masih berani menyebut “negara demokrasi”. Perbedaan pendapat n sikap dimusuhi dijerat ditangkap. Padahal kekuasaan tak pernah abadi,” cuit Fadli Zon lewat akun Twitternya Sumber. Dasar bac^t! Bukan hanya tendensius, itu malah cenderung memfitnah pemerintah. Emangnya aparat kepolisian menangkap itu tanpa bukti-bukti kuat apa?

Misalnya Ketua KAMI Medan, Khairi Amri. Dia sendiri mengakui adanya ajakan demonstrasi rusuh di grup WA “Kami Medan”. Contohnya ada kalimat “Ayo kita buat seperti 98”. Bahkan Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono menyebut isi percakapan dalam grup WA orang-orang KAMI itu mengerikan. "Ini terkait demo omnibus law yang berakhir anarkis. Patut diduga mereka-mereka itu tadi memberikan informasi yang menyesatkan, berbau SARA dan penghasutan-penghasutan itu. Kalau rekan-rekan ingin membaca WA-nya ngeri… Pantas di lapangan terjadi anarki sehingga masyarakat yang, mohon maaf, tidak paham betul akan tersulut. Ketika direncanakan sedemikian rupa, untuk membawa ini-itu untuk melakukan perusakan semua terpapar jelas di WA," ujar Awi kepada para awak media Sumber. Lagian buat apa juga pihak kepolisian menangkap orang-orang tanpa bukti kuat? Apa dalam pikiran Fadli Zon seluruh jajaran Polri orang-orangnya bodoh semua? Ingat, Presiden Jokowi tidak pernah mengintervensi proses hukum. Jangan samakan dong dengan diri sendiri, yang pernah kirim surat ke KPK bela-in Setya Novanto dulu, masih ingat gak?

Baca juga: RI Jadi Tuan Rumah Forum Kebencanaan PBB 2022, Ini Arahan Jokowi

Di sini lah saya sangat senang ketika Ferdinand Hutahaean dapat membalas cuitan Fadli Zon itu dengan sangat telak. “Bang Fadli, berhentilah menyudutkan penegak hukum yg sdg melaksanakan tugasnya atas nama UU. Demokrasi itu ada batas2nya, demikian jg kebebasan ada aturannya. Jgn bicara kebebasan absolut hanya utk melegalkan kejahatan. Bahkan liberalisme sj ada aturan,” tulis Ferdinand lewat akun Twitternya link. Jleb banget dong! Saya suka kata-kata Ferdinand di bagian “hanya untuk melegalkan kejahatan”. Ini betul sekali. Yang dilakukan Fadli Zon sebagai wakil rakyat tidak lagi mewakili suara rakyat. Orang jelas-jelas berbuat jahat kok dibela. Sementara untuk kasus-kasus di mana ada diskriminasi terhadap penganut agama minoritas, saya kok jarang denger suara Fadli Zon ya? Ada tuh nenek yang dijatuhi hukuman karena mengambil kayu jati, kok Fadli Zon diam saja?

Artinya, Fadli Zon ini hanya bersuara dengan alasan politis saja. Jika ada kaitannya dengan kepentingan gerombolannya, mereka yang dia bela seperti KAMI, baru deh diurusin. Ke Jawa Timur jauh-jauh nengok Ahmad Dhani di penjara dia lakoni, kenapa coba? Karena temennya sendiri kan? Adanya sledingan dari Ferdinand yang menohok ini, saya kira akan membantu, makin membuka mata publik terhadap Fadli Zon. Eh, mata publik sih udah terbuka lebar terhadap kelakuan Fadli Zon. Tinggal menunggu kejatuhannya seperti menunggu buah mangga jatuh dari pohonnya. (SEWORDCredit foto : tribunnews.com .