INFO VIRUS CORONA

Terbongkar! Cara Ukhti FPI Mencuci Otak Anak-anak Jadi Demonstran


PikiranSehat -
Dari sekian banyak video tentang demo, ada satu video yang sangat menyesakkan dada. Dan itu bukan video tentang kerusuhan atau polisi yang dikeroyok. Video ini tentang anak muda bernama Dafi, usianya masih belasan tahun. Tinggal di Cibinong, Sukahati. Ayahnya sudah meninggal dunia, dan Ibunya membolehkan Dafi ikut demo.

Dafi mengaku selalu datang ke aksi-aksi demonstrasi. Kadang di Jakarta, pernah juga di Bandung. Dafi mengaku sebagai fans berat Bahar bin Smith. Maka dia antusias untuk demo mengawal kebebasan Bahar.

Dalam video tersebut, Dafi ditanya-tanyai oleh sekelompok ukhti FPI. Dan Dafi selalu berhasil menjawab dengan lugas. Saat ditanya kenapa ikut aksi-aksi? Dafi menjawab untuk bela negara.

Dafi bercerita kalau dia naik truk yang dipaksa berhenti di tengah jalan. Begitulah cara dia pergi dan pulang kembali ke rumahnya. Tak peduli dengan resiko perjalanan.

Dan yang membuat saya tersentak adalah cara ukhti-ukhti menyemangati Dafi dalam videonya. Di perut sebelah kiri Dafi ada luka akibat lemparan batu. Dafi yang menjawab tidak sakit, langsung diapresiasi oleh ibu-ibu dengan kata “wiih jagoaan!”

Baca juga: WHO Kini Tolak Lockdown, Jokowi Terbukti Benar

Ukhti-ukhti dalam video tersebut, yang tak nampak wajahnya, berulang kali mengapresiasi dan membangga-banggakan Dafi. Lengkap dengan embel-embel syarie, Masyaallah, Subhanallah dan Allahuakbar.

Bahkan ukhti-ukhti tersebut berpesan agar Dafi tidak dimarahi oleh pihak sekolah, karena Insyaallah akan menjadi anak yang hebat dan tangguh. Lalu memberi semangat pada Dafi bahwa semua anggota FPI adalah keluarganya. Dan kalau ada demo lagi, Dafi boleh main ke rumah Mega dan Pepih. Untuk lebih jelasnya, video yang saya maksud dapat teman-teman lihat di akun instagram sewordofficial_

Bagi saya video tersebut adalah salah satu bukti dan cara, bagaimana sebuah doktrin ditanamkan pada anak-anak muda kita. Dafi yang menganggap demo adalah bagian dari bela negara, jelas akan selalu merasa bangga bila bisa ikut demo. Terserah apapun isunya. Tak perlu paham apa tuntutannya.

Doktrin ukhti-ukhti FPI ini semakin menguatkan, bahwa yang dilakukan oleh Dafi adalah hal yang benar dan membanggakan. Makanya Dafi terus didorong untuk ikut aksi lagi dan bahkan difasilitasi, diantar dan diundang untuk main ke rumah Mega dan Pepih. Pujian jagoan, Subhanallah, Masyaallah dan Allahuakbar adalah pujian mempertebal keyakinan, bahwa yang dilakukan Dafi adalah sebuah prestasi.

Jika ini hanya cerita tentang seorang Dafi, anak yatim dari Cibinong, mungkin mudah saja kita perbaiki dan luruskan. Tapi masalahnya, ini sudah menjadi pola. Dalam video tersebut, terdengar suara-suara anak lain yang nampaknya juga sedang diwawancarai. Artinya, ini bukan tentang seorang Dafi, tapi tentang cara pencucian otak kepada anak-anak muda kita, untuk didorong menjadi demonstran.

Baca juga: TRAGIS!!! SATU KELUARGA TEWAS MENGENASKAN AKIBAT JEBAKAN TIKUS

Lebih dari itu, Mega dan Pepih, yang merekam dan membuat video tersebut, adalah orang-orang dewasa yang sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. Ini jelas copy paste dari operasi doktrin terorisme.

Anak-anak seperti Dafi mestinya masih harus fokus belajar dan mencari kegiatan produktif. Tidak terlibat dalam aksi-aksi yang membahayakan seperti demonstrasi. Terlebih cara berangkatnya juga berbahaya, memaksa menghentikan truk. Maka kalau ukhti-ukhti FPI justru malah mengapresiasi, membenarkan dan memuji Dafi setinggi langit, jelas ini ada yang salah.

Polri mesti menyelidiki Mega dan Pepih yang dengan semangat menyanjung Dafi. Mendorong dan memprovokasi untuk terus ikut aksi di manapun dan kapanpun. Terlebih kenyataan di lapangan hari ini, kita banyak menemukan anak-anak usia belasan tahun yang ikut demo tanpa tahu maksud atau alasannya.

Semua anak-anak belasan tahun itu kalau ditanya kenapa ikut demo, jawabannya sama. Diajak teman. Tapi tidak bisa menunjukkan temannya di mana, siapa namanya dan orang mana. Silahkan diperhatikan. Semua video yang beredar, tidak ada satupun anak yang menjawab datang demo karena inisiatif sendiri seperti Dafi. Itu bukan karena Dafi sebagai pengecualian, tapi karena Dafi tidak ditanya polisi. Andai Dafi yang ditangkap dan diwawancarai polisi, hampir pasti jawabannya akan sama “diajak teman.”

Saya pikir persoalan ini perlu cepat diselesaikan dan diluruskan. Karena bagaimanapun, masa depan anak-anak ini masih panjang. Operasi doktrin dan provokasi yang dilakukan oleh ukhti-ukhti FPI ini mesti dihentikan. Kalau tidak, negara ini terancam akan berhadapan dengan demonstran perusuh yang terus berkembang dan membesar dari tahun ke tahun. (SEWORD)