INFO VIRUS CORONA

Presiden Ambil Alih Tugas Menkopolhukam, Pak Mahfud Dan Wapres Bela Rizieq, Ambyar


PikiranSehat.com -
Kekuatan dan kelemahan Pak Presiden sangat bergantung pada pembantunya. Beda dengan periode lalu beberapa menteri bersinar dan menjadi andalan Presiden. Memasuki periode kedua malah hanya sedikit yang bersinar dan membuat isu reshuffle itu menguat, beda dengan periode pertama.

Ujian kasus Rizieq misalnya. Menkopolhukam dan Kapolri menjadi penanggung jawab untuk merespon plus mengantisipasi kedatangan HRS. Tapi yang muncul hanya narasi dan gertak sambel dari Menkopolhukam yang dianulir kemudian.

Ketika kerumunan massa makin tak terkendali akhirnya Presiden pun bertindak. Presiden langsung memanggil Kapolri dan hasilnya langsung terlihat. Pemutasian alias pergantian Kapolda bahkan Kapolres di dua area yang bermasalah dengan kerumunan massa utamanya dari gerombolan Petamburan dan simpatisannya langsung dieksekusi, nggak pake lama.

Baca juga: 5 Berita Terpopuler: Jokowi Murka? RIzieq jadi Lawan Prabowo di 2024, Dua Kapolda Kena Getah

Jadi apakah Menkopolhukam yang tegas dalam hal ini? Sorry to say, sorry Ferguso ya.

Maka beralasan, Menkopolhukam harusnya direshuffle secepatnya karena bukan hanya lamban tapi omdo dan mencla-mencle. Lihat saja omongannya ketika HRS akan datang ke Indonesia, maka beliau mengatakan bahwa HRS harus dijamin dan dilindungi. Lalu dengan gaya gertak sambel si Menkoplhukam mengatakan bahwa jika akan berulah maka akan disikat!

Sampai-sampai ditagih ama netizen, Abu Janda juga menyentilnya, mosok kalah ama Nikita?

Tuh, bandara internasional Soekarno-Hatta sampai diobok-obok, massa mengular ke jalan tol sampai tak terkendali. Lantas, mana bukti ancamanmu? Gertak ayam sayur doang. Hansip juga bisa ngomong kayak gitu.

Lalu ujungnya setelah kejadian maka si Menkopolhukam menebar ancaman atau gertakan kembali bahwa Pemerintah akan bersikap tegas dengan kejadian kerumunan massa.

Baca juga: Doa Habib Idrus Buat Jokowi dan Megawati: Pendekkan Umurnya

METRO TV @Metro_TV #BreakingNewsMetroTV Pemerintah mengingatkan pada para kepala daerah, pejabat publik, aparat, & masyarakat di seluruh Indonesia bahwa pemerintah akan menindak tegas dan melakukan penegakan hukum bisa masih melakukan pengumpulan massa dalam jumlah besar. - Mahfud MD, Menkopolhukam

Setelah kejadian baru ngomong? Hadeh. Tanggung jawab itu ada di Anda loh Pak. Pak Jokowi sendiri yang harus bertindak memberi arahan dengan memanggil Kapolri untuk mengatasi masalah yang sudha di luar kendali ini.

Itu artinya negara memang sudah kebobolan atau kecolongan kasarnya. Eh, bahasa halusnya Menkopolhukam terlalu sibuk ngetuit sampai tak kordinasi dengan Kapolri.

Maka pencopotan kepda dua Kapolda itu sebenarnya tak adil. Tapi ya begitulah, sikap lembek atasan berujung pada anak buah di lapangan yang jadi tumbal. Sabar ya dua Kapolda yang sudah dimutasi.

Adalah pakar politik dan hukum dari Universitas Nasional Jakarta (UNJ), Saiful Anam, yang juga penulis kutip di sini, memberikan pandangan yang serupa soal tak becusnya Menkopolhukam.

Menurutnya, justru Menko Polhukam Mahfud MD yang layak dipecat. Pasalnya, Mahfud adalah orang pertama yang memberikan lampu hijau bagi Rizieq Shihab menghadirkan kerumunan massa.

Mahfud MD, kata Saiful Anam, mempersilahkan para pendukung HRS melakukan penjemputan ke Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (10/11) lalu. Selain Mahfud, menurut Saiful Anam, Kapolri Jendral Idham Azis juga turut bertanggungjawab.

“Mestinya kalau kapolda salah, maka yang harus tanggung jawab kapolri. Bahkan Menkopolhukam,” tegasnya.

Penulis setuju dengan pendapatnya agar Presiden Jokowi harus mengevaluasi Mahfud MD karena kerap berseberangan dengan visinya.

Persoalannya adalah bidang Pak Menkopolhukam itu strategis dan tak bisa diselesaikan dengan cara ngetuit melulu. Penulis sudah hafal gelagat dan gaya Pak Menkopolhukam itu yang entah nggak merasa dirinya Menteri di bidang itu kali.

Memang pelik sih tapi Pak Mahfud sebagai pakar hukum harusnya bisa melihat dampak besar dari ancaman HRS sebelumnya yang sudah menebar kaor untuk Revolusi Berdarah.

Kelebihan Rizieq itu selain dianggap simbol perlawanan oposisi tapi juga memiliki basis massa yang kuat. Plus dari pihak Pemerintah sendiri masih ada yang secara terbuka menyatakan dukungannya.

Lihat saja aksi Wapres Pak Ma'ruf yang sudah menyambut Rizieq dan mendukung gerakannya.

"Wapres berharap agar kedatangan Habib Rizieq yang disambut para pengikutnya itu mudah-mudahan ini menjadikan kebaikan bersama, mejadikan keteduhan buat kita dalam konteks berbangsa dan bernegara," ujar Juru Bicara Wapres, Masduki Baidlowi saat berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.

OK, jelas ya keteduhan dari gurun? Mantap, silakan Wapres sebaiknya mundur saja dan konsentrasi penuh sebagai Ketua Umum MUI. Agendanya terus berseberangan, persis Menkopolhukam.

Tahu kan bahwa urusan pemberantasan radikalisme itu diserahkan ke Wapres. Koplak sih, entah apa alasannya. Tapi ya antara lucu dan nggak lucu, Wapres malah ikut menjamin gerakan ini yang katanya membawa keteduhan. Keteduhan itu kalau model ormas itu ya sembari menista dan berkata vulgar sembari merongrong Pemerintah? (seword)