PikiranSehat.com -
Ketika covid muncul pertama kali di Wuhan, beredar video orang-orang mati berjatuhan di jalan-jalan. Mati seketika. Dalam keterangannya, mereka mati karena covid.

Wuhan yang dilockdown semakin membuat media bersemangat untuk memberitakan, betapa menakutkannya covid atau corona ini.

Tak lama berselang, Italia juga dilockdown. Beredar video pemandangan rumah sakit yang kelebihan pasien. Sampai harus dirawat di lorong-lorong.

Setelah itu muncul sebuah teori brilian. Bahwa penyebaran covid begitu cepat. Sehingga semua negara diajak melakukan karantina wilayah atau lockdown. Tak ada yang boleh keluar rumah. Dan ini diklaim adalah satu-satunya cara agar kematian bisa dimininalisir, serta rumah sakit dan petugas medis mampu menangani pasien.

Ketika kasus pertama muncul di Indonesia, media kita nampak begitu antusias. Bahkan terlihat berlebihan dalam menakut-nakuti masyarakat. Sampai ada wartawan yang menggunakan masker respirator. Masker yang biasa digunakan untuk melindungi diri dari gas beracun.

Baca juga: TUGAS SEKOLAH TERLALU BANYAK, SISWA SMP GANTUNG DIRI

Mungkin tak sempat terpikir di benak para pimpinan media kita, bahwa provokasi dan propaganda yang mereka lakukan hanya demi rating dan views, justru menjerumuskan mereka sendiri.

Ketika ekonomi lumpuh, iklan media pun berkurang drastis. Industri media suram. Dan mereka tidak sadar bahwa kondisi ini adalah akibat ugal-ugalannya pemberitaan covid.

Media-media kita yang dalam kondisi krisis terpaksa melakukan pengurangan karyawan , PHK. Bahkan ada juga yang gulung tikar, bangkrut. Sementara media yang sedang berdarah-darah akibat propagandanya sendiri itu kemudian merengek pada pemerintah. Untuk meminta subsidi dan uang iklan. Sekali lagi, uang iklan.

Seword sebagai salah satu media di Indonesia juga mengalami krisis yang sama. Dan meskipun sejak awal berdiri sangat konsisten mendukung Jokowi, tak ada dana bantuan atau perhatian dari pemerintah.

Maaf ini bukan mengeluh atau merengek. Saya ingin memberi gambaran yang jelas antara posisi media-media provokator itu dan Seword.

Sekarang, setelah hampir setahun covid berada di Indonesia, kita harus bersyukur karena negara ini tidak melakukan lockdown. Karena belakangan semua pihak menyadari, bahwa lockdown bukanlah cara terbaik melawan covid. Bahkan WHO yang dulu begitu gencar menekan negara agar cepat melakukan lockdown, kini sudah berubah pikiran.

Sampai di sini, apa kabar media-media, pakar, medis dan SJW yang dulu begitu meyakini bahwa lockdown harga mati?

Baca juga: Medsos Jadi Ajang untuk Pamer! Inilah 4 Jenis Pamer Paling Terpopuler Menurut Ane

Meskipun saya salut dengan keberanian Presiden Jokowi menolak tekanan lockdown, tapi saya juga agak kecewa karena aturan rapid tes perjalanan masih berlaku. Saya juga kecewa aturan wajib masker dijadikan ajang pemerasan terhadap masyarakat di daerah.

Setelah selesai dengan isu lockdown, kini kita sedang berhadapan dengan isu vaksin dan protokol kesehatan.

Dalam beberapa kesempatan, saya berani mengklaim bahwa Presiden Jokowi mendapat saran yang salah dari menteri-menteri beribu kepentingan. Dan saya sangat heran kenapa Jokowi yang dulu begitu pemberani, dalam beberapa bulan terakhir harus terima saja untuk berdiam diri di Istananya. Seperti begitu ketakutan untuk keluar dan blusukan. Padahal dulu Jokowi adalah sosok yang tak gentar mendatangi demonstran 212. Mendatangi wilayah konflik dan zona merah. Berkali kali mengubah arah kunjungan ke tempat yang belum steril dari bom.

Di banyak artikel saya menyerukan agar Presiden kembali blusukan. Kunjungan ke daerah. Agar dapat menilai dan melihat langsung kondisi masyarakat kita di tengah PSBB.

Untuk melihat betapa protokol kesehatan bagi masyarakat di daerah hanya sekedar aksesoris. Mereka menggunakan masker bukan untuk melindungi diri dari covid, tapi agar tidak dirazia dan ditilang. Makanya jangan heran kalau hidung mereka tak tertutup masker, bahkan banyak yang sekedar parkir di dagu. Dan dengan sikap semacam inipun, nyatanya covid hanya ada di kota-kota besar yang gencar melakukan tes. Sementara di daerah, yang tak memiliki alat tes, tidak ada kasus.

Alhamdulillah, 27 Oktober kemarin Presiden Jokowi sudah kembali ke masyarakat. Berani berhenti di tengah iring-iringan dan menyapa warga. Kembali membagikan sertifikat tanah di Sumatera Utara.

Saya tau ada proses panjang di balik ini. Tapi pada intinya saya bersyukur Jokowi kini kembali. Yang berani dan tak pernah puas dengan laporan-laporan para menterinya, dan selalu ingin melihat atau meninjau langsung kondisi di lapangan.

Semoga setelah ini segera ada kebijakan strategis terkait status darurat covid nasional, rapid tes perjalanan dan pembatalan vaksin.

Sumber: https://seword.com/politik/presiden-kembali-blusukan-drama-covid-segera-nQBxlss9ev