INFO VIRUS CORONA

Rizieq Tak Mau Temui Petugas Polisi, Khawatir Positif Covid?


PikiranSehat.com -
Entah karena depresi atau barangkali panik, HRS menolak menemui pejabat Kepolisian yang menemuinya di rumah. Hal ini terjadi Sabtu malam tanggal 21 Nopember 2020, hal mana petugas ingin memastikan kondisi sang Imam sehingga mengharuskan yang bersangkutan bertandang ke rumah pribadinya. Article

Kondisi kesehatan HRS tak pelak telah menimbulkan spekulasi, apakah dia hanya sakit biasa atau lebih parah dari itu? Kita tahu agenda kegiatan sang pemimpin demikian padat, bahkan sejak turun dari pesawat yang membawanya dari Arab Saudi, para penyambut bagaikan bergelombang bahkan sampai membuat kawasan bandara lumpuh total.

Baca juga: Mendahului dari Kiri, Bus AKAP Masuk Selokan, Begini Kondisi Penumpangnya

Sebagaimana disanggupi oleh penerima tamu, keluarga siap melakukan swab test seperti yang disarankan. Namun tampaknya ada keengganan dari pihak mereka, tentu saja alasannya sangat politis. Bayangkan saja, jika sang habib nanti melakukan tes usap, lalu hasilnya tidak memuaskan dan terbukti terpapar covid19, betapa runtuhnya kredibilitas dia sebagai orang nomor satu di FPI.

Analisis awal, rasanya sulit bagi Rizieq untuk meluluskan usulan petugas keamanan, meskipun hasil pemeriksaan kepada pengunjung yang mengikuti ceramahnya di beberapa tempat, menunjukkan kenyataan yang membuatnya tersudut.

Dapat kita bayangkan betapa akan hebohnya jagat nusantara, seandainya HRS dinyatakan positif covid. Barangkali di kalangan pendukung sang habib, akan terjadi penurunan moril dan semangat mereka, karena ikon yang sangat mereka junjung akhirnya tumbang juga.

Di samping pertimbangan politis, kalau saja HRS diketahui positif terpapar covid, akan merugikan banyak pihak secara finansial. Sang bandar yang membiayai kepulangannya ke tanah air, niscaya tak suka dengan situasi yang sangat mengkhawatirkan itu. Maka satu-satunya cara menghindari kesan terburuk, HRS harus menyembunyikan diri, terlepas apakah dia segar bugar, atau memang sedang sakit.

Baca juga: RATUSAN MASSA DEMO TOLAK HABIB RIZIEQ DI MEDAN, POSTERNYA DIINJAK-INJAK

Kalaupun dia ternyata tidak sakit, ada situasi yang tidak menguntungkan di luar sana. Pemanggilan pihak keamanan yang tentu sudah menyiapkan sejumlah pertanyaan dalam rangka klarifikasi, akan membuatnya semakin tersudut.

Situasinya serba dilematis bagi HRS, maka kalimat yang keluar dari perwakilan, adalah alasan sedang beristirahat, sehingga sang imam tidak bersedia menemui petugas yang datang.

Dugaan liar pun tentu akan bermunculan, bahwa imam besar itu sedang ciut menghadapi perkembangan terakhir, terbukti Panglima Kodam mengejutkannya dan bahkan mendapat dukungan dari Kapolda Metrojaya. Barangkali ada shock therapy yang berhasil membuat HRS mengalami penurunan moril.

Pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie, dalam sebuah wawancara televisi ditanya tentang kewenangan militer untuk menertibkan baliho. Jawabannya cukup telak, menurut undang-undang pertahanan, kewenangan militer cukup luas, termasuk membantu Pemda menjaga ketertiban dan kebersihan di setiap wilayah. Kesimpulannya, penertiban baliho yang tidak mudah dilakukan oleh petugas Satpol PP, termasuk dalam lingkup kewenangan militer.

Sangat menggelikan jika kita mencermati pernyataan seorang anggota Komisi II yang membawahi pertahanan, tak lain adalah Fadli Zon, bahwa penertiban baliho oleh militer benar-benar mencederai demokrasi. Pertanyaannya, kalau tidak dilakukan oleh militer, apakah tugas Satpol PP yang selalu dirongrong oleh laskar pendukung Rizieq itu, bisa diwakili oleh Fadli Zon sendiri?

Menjadi catatan penting bagi publik, seandainya petugas Pemda atau Pemprov, yang berwenang menertibkan baliho, namun selalu dihalang-halangi oleh kelompok liar, tentu akan menurunkan wibawa pemerintah secara keseluruhan. Tugas militer lah yang mampu memback up sehingga penertiban itu bisa dijalankan dengan lancar.

Sama lucunya dengan Fadli Zon, mantan Panglima TNI yang seharusnya memahami bunyi undang-undang pertahanan dari kalimat awal hingga akhir, ternyata sama zonk-nya. Bahkan lebih keji lagi, Gatot Nurmantyo menyebut Pimpinan TNI yang masuk ke wilayah sipil, sebagaimana dilakukan Pangdam Jaya, adalah pengkhianat TNI.

Namun tentu saja pihak militer maupun Polda akan mendapat dukungan jauh lebih luas dibanding serangan verbal dari segelintir oknum. Ibarat anjing menggonggong, kafilah berlalu, demikianlah sikap yang harus ditunjukkan oleh para pemilik otoritas keamanan. Gatot Nurmantyo ataupun Fadli Zon, yang notabene menyandang predikat mentereng, ternyata isi kepalanya tak lebih dari pengais receh di jalanan, wawasannya benar-benar nol.

Jika situasi sudah masuk kategori mengancam, siapa pun yang merasa menjadi bagian dari NKRI, harus bangkit bersatu untuk menetralisir keadaan. Apa lagi bagi militer yang tugasnya memang untuk mempertahankan NKRI secara institusional. (SEWORD)