INFO VIRUS CORONA

Prostitusi di Apartemen

Ilustrasi prostitusi. /PIXABAY/Rja1988

PikiranSehat.com -
Beberapa waktu lalu warga Bandung dikejutkan oleh kabar tentang terungkapnya praktik prostitusi di salah satu apartemen kota Bandung.

Memang sejak lama apartemen disinyalir menjadi tempat prostitusi, selain privasi terjaga karena bisa dijadikan tempat tinggal juga sehingga tak mengundang perhatian.

Unit apartemen yang seringkali disewakan secara jangka pendek menjadi penyebab mengapa para penjual diri lebih suka menggunakan apartemen sebagai tempat transaksi.

Kemajuan teknologi dan media yang membuat promosi dan komunikasi menjadi pelanggan semakin mudah membuat praktik haram ini berlangsung masif.

Properti prostitusi

Puluhan hingga belasan tahun lalu konsep apartemen sebenarnya tak terlalu disukai oleh orang-orang yang tinggal Bandung, jika memiliki uang ratusan juta dan ingin membeli hunian maka banyak yang memilih rumah petak walau harus membelinya di pinggiran kota atau kabupaten, maklum saja harga tanah di kota semakin tak masuk akal bagi yang memiliki uang pas-pasan.

Sekitar tahun 2000-an masih dianggap aneh Ketika mendengar kata apartemen, anak-anak orang kaya yang kuliah di kampus-kampus elit Bandung seperti UNPAR dan Maranatha pun lebih memilih kostan mewah ketika bicara hunian strategis dengan berbagai fasilitas, bukan apartemen.

Namun seiring perkembangan, banyak orang (terutama anak muda) yang lebih mementingkan lokasi dan akses menuju fasilitas dan pusat kota dibanding hunian luas dan kehidupan social di tempat tinggal, maka dimulailah apartemen menjadi pilihan, untuk menanggulangi pembangunan properti di pusat kota namun terbatas ketersediaan lahan maka konsep apartemen menjadi solusi logis bagi para pengembang.

Awal-awal maraknya apartemen di kota Bandung maka bisa dipastikan pemiliknya pun bukan orang Bandung namun orang-orang kaya Jakarta yang seringkali berakhir pekan sesaat di kota kembang, berbeda dengan selera orang Jakarta orang-orang asli Bandung masih menyukai hunian horizontal berupa rumah petak.

Seiring waktu semakin banyak orang memiliki apartemen namun tidak ditempati secara regular dan dianggap sebagai investasi ataupun sumber pemasukan karena bisa disewakan terlebih Ketika mulai marak penyedia jasa akomodasi online yang bisa diajak bekerja sama untuk memasarkan unit yang disewakan harian hingga bulanan.

Dengan sewa yang relatif semakin murah karena persaingan maka terbukalah akses bagi para perempuan untuk menjajakan diri namun terkendala tempat, karena jika bertransaksi di hotel tentu biaya dan resiko pun akan lebih besar karena hotel bukan tempat dengan privasi mutlak.

Jika konsep prostitusi klasik seperti lokalisasi dan tempat-tempat berkedok hiburan malam terlalu rumit karena melibatkan banyak pihak dan uang setoran maka konsep menjajakan diri secara daring melalui berbagai medsos dan aplikasi bisa dilakukan secara mandiri oleh perempuan yang ingin menjual diri dan akrab disebut praktik BO (Booking Order), secara prinsip sebenarnya yang disebut prostitusi online itu tidak ada, yang ada hanyalah prostitusi konvensional yang dipermudah sarana komunikasinya karena kemajuan teknologi informasi.

Unsur pidana terpenuhi ketika aksi menjual diri ini difasilitasi oleh pihak ketiga yang biasa disebut mucikari, si mucikari inilah yang menjajakan PSK-PSK kepada para pria hidung belang melalui berbagai sarana, sehingga PSK hanya tinggal menunggu orderan saja dan membagi hasil melacurnya kepada sang mucikari.

Melihat modus yang sangat mudah dan bisa dilakukan siapa saja yang berniat melakukannya maka yang menjadi penting adalah kontrol warga terhadap lingkungannya dan juga pemilik apartemen yang lebih selektif untuk menyewakan unitnya.

Hukum akan sulit menjangkau praktik jual diri yang dilakukan secara mandiri oleh perempuan-perempuan yang melakukan praktik BO namun hukum nasional bisa menjangkau praktik BO yang difasilitasi oleh pihak ketiga karena yang diancam oleh hukum pidana Indonesia dalam konteks pelacuran adalah penyedia tempat dan fasilitator.***